INSIBERNEWS - Amerika Serikat resmi menyebut pasukan paramiliter Rapid Support Forces (RSF) di Sudan telah melakukan genosida. Pernyataan tegas ini disampaikan oleh Menteri Luar Negeri AS, Antony Blinken, yang juga mengumumkan sanksi terhadap Jenderal Mohamed Hamdan Dagalo alias Hemedti, pemimpin RSF.
Menurut Blinken, RSF dan milisi sekutunya telah melakukan pembunuhan sistematis terhadap pria, anak laki-laki, bahkan bayi, berdasarkan etnis mereka. Selain itu, perempuan dan anak perempuan dari kelompok etnis tertentu menjadi target kekerasan seksual brutal.
“Milisi ini bahkan membunuh warga sipil yang melarikan diri dan menghalangi akses mereka terhadap kebutuhan hidup yang mendesak,” kata Blinken dalam pernyataannya.
Krisis Sudan: Kelaparan dan Pengungsi
Sudan kini berada dalam salah satu krisis terburuk dalam sejarah modern. Perang antara RSF dan militer Sudan telah menyebabkan kelaparan besar-besaran dan menciptakan gelombang pengungsi terbesar di dunia. Jumlah korban jiwa yang akurat sulit diketahui karena banyak wilayah tidak memiliki akses internet atau telepon. Namun, pejabat AS memperkirakan 150.000 orang telah tewas sejak konflik pecah pada April 2023.
Sanksi terhadap Hemedti
Langkah AS ini semakin memperburuk citra Hemedti di mata internasional. Selain dinyatakan terlibat genosida, RSF di bawah komandonya juga dituding melakukan berbagai kekejaman seperti pembersihan etnis, pemerkosaan massal, perbudakan, hingga kejahatan perang.
Sanksi yang dijatuhkan AS juga menyasar tujuh perusahaan yang dikelola RSF di Uni Emirat Arab (UEA), namun diperkirakan tidak akan langsung melumpuhkan kekayaan Hemedti yang mencapai miliaran dolar.
Keterlibatan Rusia
AS juga menuding Rusia mendukung kedua belah pihak dalam konflik ini. Emas dari Sudan disebut menjadi alat Rusia untuk menghindari sanksi internasional, membuat situasi semakin rumit.
Langkah Penting dari AS
Deklarasi genosida ini merupakan salah satu langkah terkuat dari pemerintah AS sejak perang saudara Sudan dimulai. Sebelumnya, AS hanya enam kali menyatakan genosida, termasuk di Bosnia, Rwanda, dan Myanmar.
Langkah ini menjadi peringatan keras bagi Hemedti dan RSF sekaligus menegaskan posisi AS dalam upaya menghentikan kekejaman di Sudan. Namun, apakah ini akan membawa perubahan nyata bagi rakyat Sudan yang tengah menderita, masih menjadi pertanyaan besar.