INSIBERNEWS - Situasi konflik yang memanas di kawasan Laut Merah sepanjang tahun 2024 telah memberikan pukulan telak pada perekonomian Mesir.
Pendapatan dari Terusan Suez salah satu jalur perdagangan paling strategis di dunia merosot tajam hingga 60 persen dibandingkan tahun sebelumnya. Angka kerugian tersebut mencapai sekitar USD7 miliar atau setara Rp113 triliun.
Baca Juga: Pastikan Perayaan Natal 2024 Lancar, Polres Purwakarta Laksanakan Patroli Pengamanan Tempat Ibadah
Kantor Presiden Mesir Abdel Fattah El-Sisi menyampaikan bahwa penurunan drastis ini terungkap dalam pertemuan Presiden El-Sisi dengan Direktur Pelaksana Otoritas Terusan Suez, Laksamana Ossama Rabiee.
Dalam rapat itu, terungkap bagaimana konflik yang melibatkan kelompok Houthi di Yaman telah mengganggu lalu lintas pelayaran di Laut Merah dan Selat Bab el-Mandeb. Hal ini berdampak signifikan pada keberlanjutan perdagangan global yang bergantung pada jalur tersebut.
“Presiden El-Sisi telah menerima laporan terkait pendapatan Terusan Suez pada tahun 2024, yang mencatat penurunan lebih dari 60 persen dibandingkan tahun 2023. Ini berarti negara kehilangan hampir USD7 miliar,” demikian pernyataan resmi yang dirilis pada Kamis (26/12).
Penurunan tajam ini juga diperparah oleh keputusan sejumlah perusahaan besar, termasuk raksasa pelayaran Denmark, Maersk, yang mengalihkan jalur oKekayaanny
Dalam laporan pada September 2024, Maersk menyebutkan bahwa jumlah kapal yang melintasi Terusan Suez menurun hingga 66 persen.
Baca Juga: Head to Head PSBS Biak vs Dewa United BRI Liga 1 2024-2025, Siapakah yang Menang?
Keputusan itu diambil menyusul ancaman kelompok Houthi yang bersumpah akan menyerang kapal-kapal terkait Israel sebagai bentuk solidaritas terhadap Palestina setelah konflik di Gaza.
Meski Houthi sempat menyatakan komitmen untuk tidak mengganggu kebebasan navigasi atau membahayakan kapal negara lain, kekhawatiran terhadap keamanan tetap membuat banyak perusahaan enggan melintasi wilayah tersebut.