news

Rubel Terpuruk Tajam, Putin: Tidak Ada Alasan untuk Panik

Sabtu, 30 November 2024 | 08:55 WIB
Rubel Rusia Anjlok (Photo : Verdauen)

 

INSIBERNEWS - Nilai mata uang Rusia, rubel, mengalami penurunan tajam dalam beberapa pekan terakhir, mencapai titik terendah sejak Maret 2022.

Meski begitu, Presiden Rusia Vladimir Putin menegaskan bahwa situasi ini masih terkendali dan tidak perlu memicu kepanikan.

Baca Juga: Krisis Gaza Memuncak: Kekurangan Obat dan Bahan Pokok Kian Parah

Pernyataan ini disampaikan Putin saat berbicara kepada wartawan di Kazakhstan, merespons kekhawatiran atas pelemahan rubel yang dipicu oleh sanksi baru dari Amerika Serikat.

Dalam langkah terbarunya, AS menjatuhkan sanksi terhadap sejumlah bank Rusia yang terlibat dalam perdagangan luar negeri, termasuk Gazprombank.

Baca Juga: Terkait Penyelenggaran Donasi Untuk Agus Tanpa Izin, Kemensos Maklumi, Mungkin Selama Ini Sosialisasi Kemensos Kurang

Hal ini berdampak langsung pada nilai rubel yang sebelumnya stabil di kisaran 75-80 per dolar AS sebelum invasi Rusia ke Ukraina.

“Situasi saat ini dipengaruhi oleh berbagai faktor musiman, seperti pembayaran anggaran dan harga minyak. Jadi, ini bukan sesuatu yang luar biasa,” ujar Putin, mencoba meredakan keresahan publik.

Baca Juga: Warga Negara Indonesia Ditangkap dengan Membawa Uang Palsu di Bandara Internasional Washington Dulles

Bank sentral Rusia pun berupaya keras menahan laju penurunan rubel dengan menghentikan pembelian mata uang asing. Meski demikian, dampak dari sanksi internasional dan dinamika pasar global terus menekan mata uang Rusia.

Putin membantah bahwa konflik dengan Ukraina menjadi penyebab utama anjloknya rubel. Ia menekankan bahwa perekonomian Rusia tetap solid meski harus menghadapi tekanan global yang signifikan.

Baca Juga: RSU Pengayoman Cipinang Raih Juara I Dinkes Innovation Days 2024 dengan Inovasi Telepatic Menembus Jeruji

Namun, tantangan nyata tetap ada. Inflasi di Rusia kini melonjak lebih dari dua kali lipat dari target resmi sebesar 4 persen, memberikan tekanan besar pada daya beli masyarakat.

Penurunan nilai rubel semakin memperburuk situasi, terutama bagi warga yang menghadapi kenaikan harga kebutuhan pokok.

Halaman:

Tags

Terkini