INSIBERNEWS - Nilai mata uang Rusia, rubel, mengalami penurunan tajam dalam beberapa pekan terakhir, mencapai titik terendah sejak Maret 2022.
Meski begitu, Presiden Rusia Vladimir Putin menegaskan bahwa situasi ini masih terkendali dan tidak perlu memicu kepanikan.
Baca Juga: Krisis Gaza Memuncak: Kekurangan Obat dan Bahan Pokok Kian Parah
Pernyataan ini disampaikan Putin saat berbicara kepada wartawan di Kazakhstan, merespons kekhawatiran atas pelemahan rubel yang dipicu oleh sanksi baru dari Amerika Serikat.
Dalam langkah terbarunya, AS menjatuhkan sanksi terhadap sejumlah bank Rusia yang terlibat dalam perdagangan luar negeri, termasuk Gazprombank.
Hal ini berdampak langsung pada nilai rubel yang sebelumnya stabil di kisaran 75-80 per dolar AS sebelum invasi Rusia ke Ukraina.
“Situasi saat ini dipengaruhi oleh berbagai faktor musiman, seperti pembayaran anggaran dan harga minyak. Jadi, ini bukan sesuatu yang luar biasa,” ujar Putin, mencoba meredakan keresahan publik.
Bank sentral Rusia pun berupaya keras menahan laju penurunan rubel dengan menghentikan pembelian mata uang asing. Meski demikian, dampak dari sanksi internasional dan dinamika pasar global terus menekan mata uang Rusia.
Putin membantah bahwa konflik dengan Ukraina menjadi penyebab utama anjloknya rubel. Ia menekankan bahwa perekonomian Rusia tetap solid meski harus menghadapi tekanan global yang signifikan.
Namun, tantangan nyata tetap ada. Inflasi di Rusia kini melonjak lebih dari dua kali lipat dari target resmi sebesar 4 persen, memberikan tekanan besar pada daya beli masyarakat.
Penurunan nilai rubel semakin memperburuk situasi, terutama bagi warga yang menghadapi kenaikan harga kebutuhan pokok.