INSIBERNEWS - Harga minyak dunia kembali melemah pada Senin (11/11/2024), memperpanjang tren penurunan yang terjadi sejak akhir pekan lalu.
Tekanan pada pasar minyak global ini tidak lepas dari situasi ekonomi China yang kembali menunjukkan angka-angka ekonomi yang lesu, meskipun negara tersebut telah meluncurkan stimulus baru minggu lalu.
Dampaknya, kekhawatiran terhadap permintaan minyak dari negara importir terbesar ini semakin meningkat.
Baca Juga: Polsek Telagasari Lakukan Giat Pengaturan Lalu Lintas Perempatan Pasar
Pada perdagangan Senin, harga minyak mentah berjangka jenis Brent turun sebesar 2,76 persen menjadi USD71,83 per barel.
Sementara itu, minyak jenis West Texas Intermediate (WTI) mengalami penurunan lebih tajam, yakni sebesar 3,32 persen, hingga menyentuh level USD68,04 per barel.
Data dari China yang dirilis pada akhir pekan lalu menunjukkan bahwa inflasi konsumen di negara tersebut hanya naik tipis pada bulan Oktober, bahkan menjadi yang paling lambat dalam empat bulan terakhir.
Lebih parahnya lagi, harga produsen di sana mengalami penurunan atau deflasi, yang semakin mempertegas betapa rapuhnya ekonomi China saat ini.
Baca Juga: Suasana Haru di Washington DC: WNI Menangis Bahagia Bertemu Presiden Prabowo, ‘We Love You, Pak!’
Kondisi ini menjadi sinyal bagi pasar bahwa stimulus besar-besaran senilai USD1,4 triliun yang diumumkan pekan lalu tampaknya tidak akan langsung berdampak positif terhadap konsumsi dan permintaan energi di China.
Langkah stimulus tersebut sebagian besar dirancang untuk mengurangi beban utang pemerintah daerah, namun tidak menyasar langsung peningkatan daya beli konsumen.
Menurut analisis dari PVM Oil Associates, meskipun ada suntikan stimulus baru, efeknya terhadap ekonomi dan permintaan minyak di China kemungkinan kecil.