INSIBERNEWS - Jaringan Advokasi Tambang (JATAM) menyatakan keberatannya terkait pencantuman mereka sebagai informan utama dalam disertasi Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Bahlil Lahadalia.
Disertasi Bahlil yang berjudul “Kebijakan, Kelembagaan, dan Tata Kelola Hilirisasi Nikel yang Berkeadilan dan Berkelanjutan di Indonesia”
ini menuai kontroversi setelah JATAM merasa informasi yang diberikan telah disalahgunakan.
Baca Juga: Presiden Prabowo Mulai Kunjungan Kerja Perdana ke Lima Negara, Ini Tujuannya!
Kisah ini bermula ketika JATAM bersedia diwawancara oleh seseorang bernama Ismi Azkya, yang mengaku sebagai peneliti dari Lembaga Demografi UI.
Pada 28/08/2024, Ismi menghubungi JATAM untuk keperluan penelitian yang ia katakan untuk dirinya sendiri.
Namun, ternyata informasi yang mereka berikan menjadi bagian penting dalam disertasi Bahlil Lahadalia.
JATAM baru menyadari hal ini setelah sidang terbuka promosi doktor Bahlil pada 16/10/2024.
Ketidakjelasan status wawancara tersebut membuat JATAM merasa dibohongi.
Mereka menilai tindakan ini sebagai bentuk "penipuan intelektual" yang merusak integritas akademis.
Melky Nahar, Koordinator Nasional JATAM, mengatakan bahwa pihaknya telah mengirim surat keberatan ke Universitas Indonesia,
menuntut nama JATAM dan data yang disampaikan dihapus dari disertasi tersebut.