INSIBERNEWS - Nyaris 30% populasi Jepang berusia 65 tahun ke atas, Negeri sakura ini tengah dilanda krisis tenaga kerja.
Menjadi angka tertinggi sepanjang sejarah Jepang, populasi lansia usia 65 tahun ke atas saat ini mencapai 36,25 juta orang.
Tingginya jumlah lansia tersebut turut jadi pemicu kekurangan tenaga kerja yang terjadi secara signifikan.
Baca Juga: Dapat Bantu Perbaiki Kesehatan Mental, Ketahui Apa Itu Tren Silent walking?
Dikutip dari survei terbaru keluaran Teikoku Databank, setidaknya ada 51% perusahaan dari berbagai sektor di Jepang yang mengaku kekurangan tenaga kerja penuh waktu (fulltime).
"kurangnya tenaga kerja saat ini benar-benar parah," ucap ekonom Robert Feldman dari Morgan Stanley MUFG Securities.
Krisis tenaga kerja paling banyak dirasakan oleh perusahaan yang bergerak di bidang layanan makanan.
Baca Juga: Berkat Lisa Blackpink Boneka Labubu Viral Hingga Diburu Para Kolektor, Sudah punya?
Semakin banyaknya populasi lansia di Jepang, sementara dalam beberapa tahun terakhir, tak sedikit pula pekerja yang mulai memasuki masa pensiun.
Sehingga, banyaknya pekerja yang pensiun tidak sebanding dengan ketersediaan tenaga kerja yang dibutuhkan untuk mengisi kekosongan posisi tersebut.
Belum lagi, diperkirakan jumlah lansia bisa mencapai 34,8% dari populasi Jepang di tahun 2040.
Baca Juga: Charlie Puth Hebohkan Penggemar dengan Pengumuman Pernikahan Bersama Brooke Sansone
Untuk mengatasi kekurangan warga usia produktif di masa depan, pemerintah Jepang telah melakukan berbagai cara.
Mulai dari menaikkan tunjangan membesarkan anak hingga aplikasi dating untuk membujuk warga Jepang agar dapat menjalin hubungan, menikah, dan punya anak.
Tentu, langkah-langkah tersebut tidak bisa langsung mengatasi kekurangan tenaga kerja saat ini.