INSIBERNEWS - Korea Selatan kini menghadapi situasi darurat terkait kejahatan deepfake, sebuah teknologi yang memungkinkan pembuatan video palsu dengan sangat realistis.
Deepfake, yang menggabungkan teknik pembelajaran mesin dan kecerdasan buatan, digunakan untuk membuat konten yang menipu dan merugikan.
Dalam beberapa bulan terakhir, negara ini telah mengalami lonjakan kasus penyalahgunaan deepfake yang berdampak pada privasi dan keamanan individu.
Baca Juga: BRI Liga 1 2024: Ini Link Live Streaming Borneo FC vs Malut United di Pekan Kelima
Peningkatan penggunaan deepfake di Korea Selatan telah menimbulkan berbagai masalah serius.
Kasus-kasus terbaru melibatkan video palsu yang menyebar di media sosial, menampilkan tokoh publik dan individu biasa dalam situasi yang memalukan atau merugikan.
Deepfake ini sering digunakan untuk tujuan fitnah, pemerasan, dan penyebaran informasi palsu yang merusak reputasi.
Selain itu, teknologi deepfake telah digunakan untuk membuat video erotis tanpa persetujuan, yang sangat meresahkan karena menargetkan korban yang tidak berdaya.
Keberadaan video seperti ini tidak hanya merusak privasi tetapi juga bisa menyebabkan trauma psikologis bagi korban.
Korea Selatan telah mulai mengambil langkah-langkah serius untuk mengatasi ancaman deepfake.
Baca Juga: J-Hope BTS Rayakan Chuseok dari Wajib Militer dengan Pesan Menyentuh dan Canda Khasnya
Pemerintah telah meluncurkan berbagai inisiatif untuk meningkatkan kesadaran publik tentang bahaya deepfake dan bagaimana cara melindungi diri.
Selain itu, mereka sedang menyusun undang-undang baru yang akan memberikan hukuman lebih berat bagi pelaku kejahatan deepfake.