news

Terungkap! Ini Analisis Psikologi Forensik pada Kasus Dokter Mahasiswa PPDS Undip Bunuh Diri

Minggu, 18 Agustus 2024 | 11:34 WIB
Ilustrasi kasus bunuh diri dokter PPDS Undip (Istimewa)

INSIBERNEWS - Kasus bunuh diri seorang dokter muda sekaligus mahasiwa Program Pendidikan Dokter Spesialis (FK Undip) bernama Aulia Risma telah melewati masa analisis.

Direktur Utama Pusat Kesehatan Jiwa Nasional RS Marzoeki Mahdi, Nova Riyanti Yusuf memberikan penjelasan mengenai aspek psikologi forensik kasus bunuh diri tersebut.

Nova menjelaskan bahwa metode bunuh diri yang dilakukan oleh korban melibarkan penggunaan obat-obatan anestesi, terutama Propofol, serta alat medis tertentu yang digunakan untuk tindakan tersebut.

Baca Juga: Presien Jokowi Bagai Obral Tanah Air Karena Kebijakan Hak Guna Usaha hingga 190 tahun di IKN

Ia menekankan pentingnya mencegah ide bunuh diri agar tidak berkembang menjadi tindakan nyata.

Ia juga menggarisbawahi bahwa pelajaran penting bagi dokter spesialis anestesi adalah pemahaman mendalam mengenai penggunaan obat-obatan anestesi.

Kesalahan dalam hal ini dapat berujung pada situasi yang berbahaya. Di sisi lain, Nova mengakui bahwa profesi dokter spesialis anestesi kerap menghadapi tekanan dan stres yang signifikan.

Baca Juga: AHY Menang Kostum Terbaik di Upacara Hut ke 79 RI, Dapat Sepeda Spesial dari Jokowi

Pihak kepolisian telah mengonfirmasi bahwa kasus ini murni bunuh diri. Nova menambahkan, akan dilakukan wawancara dengan pihak rumah sakit, universitas, serta penyelidikan di lokasi bunuh diri. 

Buku harian milik korban juga dianggap penting untuk proses triangulasi dalam otopsi psikologis.

Dalam pernyataan resminya, Undip menegaskan bahwa tidak ada tindakan perundungan yang dialami korban selama menjalani pendidikan.

“Saya sudah melalui program pendidikan dokter umum hingga spesialis, dan kita perlu memperjelas batasan antara proses pendidikan dan tindakan yang masuk kategori perundungan. Batasan ini sering kali kabur,” ujar Nova Riyanti.

Lebih lanjut, Nova menambahkan bahwa tekanan yang dihadapi oleh dokter sangat luar biasa. Dengan otopsi psikologis ini, diharapkan dapat diidentifikasi stres sosial yang dialami korban selama hidupnya.

Sehingga diharapkan dapat menjadi informasi saintifik yang bermanfaat dalam penyusunan kebijakan untuk program pendidikan dokter spesialis di masa mendatang. (***)

Tags

Terkini