INSIBER NEWS - Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) menetapkan secara resmi penyakit masyarakat yaiu Mpox sebagai keadaan darurat kesehatan bagi masyarakat global atau Public Health Emergency (PHEIC) untuk kedua kalinya dalam dua tahun.
Status PHEIC adalah tingkat kewaspadaan tertinggi WHO dan bertujuan untuk mempercepat penelitian, pendanaan, dan tindakan kesehatan masyarakat internasional serta kerja sama untuk mengatasi penyakit tersebut.
"Jelas bahwa respons internasional yang terkoordinasi sangat penting untuk menghentikan wabah ini dan menyelamatkan nyawa," kata Dirjen WHO Tedros Adhanom dalam keterangannya dikutip dari laman resmi WHO.
Sementara itu, Dinas Kesehatan (Dinkes) DKI Jakarta mengonfirmasi setidaknya ada 11 kasus Mpox atau cacar monyet di wilayah DKI sepanjang tahun 2024. Kasus Mpox tersebut tersebar di beberapa kecamatan DKI Jakarta.
Baca Juga: Sering Sakit Ulu Ati dan Engap? Pertanda Miliki Penyakit Maag, Bedakan dengan Asam Lambung
Pelaksana Tugas (Plt) Kepala Bidang Pencegahan dan Pengendalian Penyakit (P2P) Dinas Kesehatan DKI Jakarta dr Maryati Kasiman, M K K K mengatakan kasus Mpox terakhir ditemukan di bulan Juni 2024.
"Jumlah kasus 2024 sampai saat ini ada 11. Sembilan kasus warga Jakarta dan 2 kasus luar Jakarta. Terakhir kasus ditemukan bulan Juni 2024," ucapnya saat dihubungi wartawan, Jumat (16/8/2024).
Kasus Mpox tersebut tersebar di 8 kecamatan DKI Jakarta. Di antaranya Pasar Minggu, Ciracas, Grogol Petamburan, Jatinegara, Kebon Jeruk, Matraman, Tanah Abang, dan Tanjung Priok.
Baca Juga: Wajib Diketahui, 8 Jenis Minuman yang Bisa Bersihkan Ginjal, Mencegah Kerusakan dan Risiko Penyakit
Seluruh kasus Mpox tersebut, lanjut dr Maryati, dilaporkan menyerang warga berusia 21-50 tahun.
Kasus pertama Mpox dilaporkan terjadi pada 22 Januari 2024. Virus ini ditemukan pada tubuh seorang wanita di DKI yang juga merupakan pengidap HIV dan IMS.
Kemudian pada 7 Februari 2024 ditemukan kembali pada perempuan.
"Kami terus meningkatkan kewaspadaan terhadap Mpox, bekerjasama dengan RS dan seluruh layanan kesehatan yang ada," kata dr Maryati [**]