Dikutip InsiberNews dari akun Instagram @ngomonginuang (13/8/2024), CEO Coface Bdi (Perusahaan database bisnis Israel) menyatakan bahwa jumlah perusahaan Israel yang bangkrut sebagian besar terjadi sejak awal perang.
“Angka tersebut dianggap angka tertinggi yang mencakup banyak sektor, dengan sekitar 77% bisnis tutup sejak awal perang,” ungkap Yoel Amir.
Baca Juga: Pakar Politik Nilai Airlangga Hartarto Mundur dari Golkar Karena Tekanan, Benarkah?
Saat ini Israel mengalami masalah ekonomi yang serius, salah satunya adalah kekurangan pelanggan dari produk-produk Israel.
Kemudian Israel juga sulit untuk mendapatkan bahan baku. Adapun bunga bank yang semakin besar sangat mempengaruhi pergerakan ekonomi Israel.
Perang juga mengakibatkan akses bisnis Israel terbatas karena banyak negara yang menolak dan tidak mau bekerja sama.
Baca Juga: Bikin Ngiler! ini dia Olahan Pete yang Ternyata Sempurna Dinikmati dengan Nasi Hangat
35 ribu dari 46 ribu perusahaan Israel yang bangkrut merupakan usaha kecil. Perusahaan-perusahaan yang bangkrut ini kebanyakan berasal dari sektor yang padat karya.
Melihat bagaimana perang sangat berdampak pada ekonomi Israel maka dapat disimpulkan bahwa tidak ada pemenang dari setiap perang.***