INSIBERNEWS - Aktivitas vulkanik Gunung Anak Krakatau yang membelah perairan Selat Sunda kembali menunjukkan tren peningkatan yang mengkhawatirkan.
Merespons kondisi alam yang kian bergejolak tersebut, otoritas terkait akhirnya mengambil langkah tegas dengan menaikkan status gunung api legendaris itu dari Level II (Waspada) ke Level III atau Siaga.
Eskalasi status kebencanaan ini secara resmi diberlakukan pada Jumat (9/10/2026) malam, tepatnya pada pukul 21.00 WIB.
Kepala Badan Geologi Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM), Lana Saria, menjelaskan bahwa keputusan ini diambil murni berdasarkan hasil analisis dan evaluasi data instrumen pemantauan secara komprehensif, yang informasinya juga telah disosialisasikan secara luas lewat akun Instagram @bpbdlampung.
"Berdasarkan hasil analisis dan evaluasi secara menyeluruh, maka tingkat aktivitas Gunungapi Anak Krakatau dinaikkan dari Level II (Waspada) menjadi Level III (Siaga) terhitung mulai tanggal 9 Oktober 2026 pukul 21.00 WIB," ungkap Lana memberikan keterangan resmi kepada para pewarta.
Menyusul penetapan status Siaga ini, Badan Geologi langsung mengeluarkan peringatan keras berupa larangan beraktivitas bagi seluruh lapisan masyarakat, termasuk para nelayan dan wisatawan.
Mereka secara tegas diwajibkan untuk mengosongkan area dan tidak merangsek masuk ke dalam radius lima kilometer dari pusat kawah utama, serta menjauhi zona satu kilometer dari gugusan pulau baru di sektor barat laut dan tenggara.
Baca Juga: Selamat Tinggal Lulus Otomatis, Mendikdasmen Siap Berlakukan Lagi Aturan Tinggal Kelas di 2027
Peringatan batas jarak aman tersebut diberlakukan karena potensi ancaman dari perut Anak Krakatau saat ini dinilai sangat mematikan.
Ancaman vulkanik yang mengintai tidak hanya sebatas lontaran batu pijar dan hujan abu lebat, tetapi juga muntahan aliran lava yang bisa memicu erupsi sekunder berbahaya saat material bersuhu ekstrem tersebut bersentuhan langsung dengan air laut.
"Meningkatkan kewaspadaan terhadap ancaman bahaya lontaran batu pijar, hujan abu lebat, aliran lava, dan potensi erupsi sekunder yang ditimbulkan oleh kontak panas lava, baik dengan air laut maupun air hujan dalam radius 5 km dari pusat erupsi Anak Krakatau," terang Lana membeberkan risiko nyata dari bencana alam tersebut.
Kendati Anak Krakatau tengah ‘mengamuk’ dan berstatus Siaga, Badan Geologi mengimbau warga yang bermukim di pesisir Banten maupun Lampung untuk tidak panik berlebihan.
Masyarakat diminta tegas mengabaikan berbagai rumor liar atau hoaks terkait potensi ancaman tsunami, dan dipersilakan untuk tetap menjalankan rutinitas harian dengan normal sembari terus mematuhi arahan dari BPBD setempat.***