INSIBERNEWS - Kasus pelecehan seksual non-fisik kembali mencoreng kenyamanan bertransportasi umum di ibu kota.
Seorang pria tertangkap basah sedang merekam seorang penumpang perempuan secara diam-diam di area Stasiun Sudirman, Jakarta Pusat, pada Kamis (13/8/2026).
Insiden yang terjadi pada sore hari sekitar pukul 17.02 WIB ini dengan cepat menyita perhatian publik setelah video pelabrakannya viral dan memicu perdebatan di media sosial.
Kejadian meresahkan ini bermula ketika teman korban menaruh curiga terhadap gerak-gerik pelaku di lokasi. Menyadari aksi diam-diamnya telah terbongkar, pria tersebut tampak panik dan nyaris melarikan diri untuk menghindari amukan massa.
Merespons situasi tersebut, teman korban langsung berteriak memanggil petugas keamanan stasiun yang berjaga di dekat pintu keluar agar pelaku segera diamankan.
Saat diinterogasi awal oleh petugas keamanan stasiun, pria tersebut bersikeras membantah tuduhan dan berpura-pura menjadi korban salah sasaran.
Namun, segala sangkalannya runtuh seketika saat petugas memaksa untuk memeriksa isi galeri ponsel pintar miliknya. Di sana, petugas menemukan dua buah bukti rekaman video korban, yang kemudian langsung dihapus secara permanen untuk melindungi privasi korban.
"Ini tinggal saya viralin, tadi enggak, enggak nyalahin saya dikira saya yang nuduh. Itu baru aja dihapus juga, sekali lagi lu gitu ya," kecam korban dengan nada jengkel memarahi pelaku, seperti yang terekam jelas dalam tayangan amatir yang kini beredar luas di dunia maya.
"Satpam KAI juga kok ga setegas itu buat ngadepin hal kayak gini? Masukan juga, please latih para petugas kalian buat lebih tegas akan hal-hal kayak gini," tulis akun Threads @florinegretha26 yang merupakan teman korban, menyoroti penanganan petugas yang dinilai kurang memberikan efek jera kepada terduga pelaku.
"Setibanya di Stasiun Sudirman, korban melaporkan kejadian tersebut kepada petugas pengamanan Stasiun Sudirman dan korban juga meminta pelaku untuk menghapus rekaman video tersebut," jelas Manager Public Relations KAI Commuter, Leza Arlan, saat memberikan konfirmasi resmi kepada awak media terkait penanganan awal pada Jumat (14/8/2026).
Menanggapi kritik pedas dari warganet, Leza memastikan pihak KAI Commuter akan melakukan evaluasi internal mengenai prosedur penanganan pelecehan seksual di lapangan.
Manajemen menjamin keberpihakan penuh kepada para korban dan kembali mengingatkan seluruh pengguna kereta komuter untuk saling menghargai ruang privat orang lain, mengingat KRL adalah fasilitas publik yang digunakan oleh berbagai lapisan masyarakat.***