Menteri Luar Negeri Iran Abbas Araghchi menuding Israel sengaja mempertahankan ketegangan dan berusaha memperpanjang peperangan. Ia menegaskan bahwa setiap pelanggaran terhadap kesepakatan yang telah dibuat akan menjadi tanggung jawab Washington.
Menurut Araghchi, AS memiliki kewajiban untuk memastikan seluruh pihak mematuhi komitmen yang telah disepakati dalam nota kesepahaman tersebut.
Sementara itu, suasana semakin memanas setelah empat tentara Israel dilaporkan tewas dalam pertempuran di Lebanon selatan. Hizbullah mengklaim berhasil melancarkan penyergapan terhadap pasukan Israel dan menghancurkan tiga tank menggunakan rudal antitank berpemandu.
Baca Juga: MotoGP Mandalika 2026 Siap Digelar, Dampak Ekonominya Tembus Triliunan Rupiah
Kelompok tersebut juga mengaku menyerang posisi militer Israel dengan roket dan artileri. Salah satu korban tewas disebut merupakan komandan batalion.
Menyusul kabar tersebut, Menteri Keamanan Nasional Israel Itamar Ben-Gvir mengeluarkan pernyataan keras yang memicu kontroversi. Ucapannya mencerminkan tingginya emosi dan ketegangan yang masih menyelimuti konflik antara kedua pihak.
Meski gencatan senjata telah diumumkan, kondisi di Lebanon selatan masih jauh dari stabil. Israel dan Hizbullah sama-sama menyatakan akan terus merespons setiap ancaman yang mereka anggap membahayakan.
Baca Juga: Jokowi Angkat Bicara Usai Roy Suryo dan dr Tifa Ditahan, Siap Tunjukkan Ijazah Asli di Persidangan
Situasi ini menunjukkan bahwa perdamaian yang diharapkan masih menghadapi banyak tantangan. Tanpa komitmen kuat dari seluruh pihak untuk menahan diri, bentrokan baru berpotensi kembali pecah dan mengancam stabilitas kawasan Timur Tengah. ***