INSIBERNEWS - Konflik bersenjata antara Israel dan Hizbullah memasuki babak baru setelah kedua pihak dilaporkan menyepakati gencatan senjata di tengah meningkatnya ketegangan di Lebanon selatan.
Kesepakatan tersebut muncul setelah gelombang pertempuran yang menewaskan sedikitnya 47 orang dan memicu kekhawatiran akan meluasnya konflik di kawasan Timur Tengah.
Seorang pejabat Amerika Serikat mengonfirmasi bahwa kesepakatan penghentian sementara pertempuran telah dicapai. Langkah ini dinilai penting karena konflik Israel-Hizbullah dikhawatirkan dapat mengganggu nota kesepahaman (MoU) damai antara Amerika Serikat dan Iran yang sebelumnya diumumkan Presiden AS Donald Trump.
Baca Juga: Kena Semprot Netizen Lagi, Giorgio Antonio Pernah Ngaku Kagumi Sarwendah Sejak Lima Tahun Lalu
Meski gencatan senjata telah diberlakukan, situasi di lapangan belum sepenuhnya kondusif. Militer Israel menyatakan bahwa kesepakatan tersebut telah mulai berlaku, namun menegaskan akan tetap merespons setiap ancaman keamanan yang muncul.
Juru bicara militer Israel, Effie Defrin, mengatakan pasukan negaranya tidak akan ragu mengambil tindakan jika terjadi pelanggaran dari pihak Hizbullah. Menurutnya, keamanan warga Israel tetap menjadi prioritas utama.
“Kami akan terus menindak setiap ancaman langsung dan merespons pelanggaran yang dilakukan Hizbullah demi melindungi warga sipil,” tegas Defrin.
Di pihak lain, Hizbullah belum secara resmi mengumumkan penerimaan terhadap kesepakatan tersebut. Namun Sekretaris Jenderal Hizbullah, Sheikh Naim Qassem, menegaskan bahwa upaya untuk melemahkan kelompoknya tidak berhasil.
Baca Juga: Kesehatan Menurun Usai Jadi Tersangka, Dokter Tifa Dirawat di RS Polri karena GERD Kambuh
Qassem bahkan menyatakan Israel pada akhirnya akan dipaksa mundur dari wilayah yang masih dipersengketakan. Pernyataan itu memperlihatkan bahwa ketegangan politik dan militer antara kedua pihak masih jauh dari kata selesai.
Serangan Udara Masih Terjadi Setelah Gencatan Senjata
Keraguan terhadap efektivitas gencatan senjata semakin menguat setelah sejumlah serangan udara dilaporkan tetap terjadi. Tim penyelamat di Kota Nabatieh menyebut sedikitnya 12 serangan udara masih berlangsung setelah waktu resmi pemberlakuan gencatan senjata pada pukul 16.00 waktu setempat.
Peristiwa tersebut memunculkan pertanyaan mengenai komitmen para pihak terhadap kesepakatan yang telah diumumkan. Banyak pihak khawatir pelanggaran di lapangan dapat kembali memicu siklus balas dendam dan memperpanjang konflik.
Pemerintah Iran turut menyoroti perkembangan terbaru tersebut. Teheran menilai Amerika Serikat gagal memastikan Israel mematuhi isi nota kesepahaman yang juga mencakup upaya penghentian konflik di Lebanon.
Baca Juga: Gempuran Brutal Israel Hantam Lebanon Selatan dan Timur: 30 Orang Tewas, Upaya Damai Terancam Kandas
Artikel Terkait
Jokowi Angkat Bicara Usai Roy Suryo dan dr Tifa Ditahan, Siap Tunjukkan Ijazah Asli di Persidangan
MotoGP Mandalika 2026 Siap Digelar, Dampak Ekonominya Tembus Triliunan Rupiah
Roy Suryo dan Dokter Tifa Dirawat di RS Polri Usai Ditangkap, Kondisi Kesehatan Jadi Sorotan
Gara-gara Obat Nyamuk Bakar, Rumah Kayu Milik Kakek Sebatang Kara di Jepara Ludes Dilalap Api
Polres Bogor Amankan Pria Paruh Baya Terkait Kasus Dugaan Kekerasan Seksual Balita di Cibinong
Kesehatan Menurun Usai Jadi Tersangka, Dokter Tifa Dirawat di RS Polri karena GERD Kambuh
Kena Semprot Netizen Lagi, Giorgio Antonio Pernah Ngaku Kagumi Sarwendah Sejak Lima Tahun Lalu