INSIBERNEWS - Harga emas dunia kembali bergerak melemah pada perdagangan Asia, Jumat (19/6/2026).
Penurunan ini memperpanjang tren negatif logam mulia tersebut dan membuatnya berada di jalur pelemahan mingguan untuk ketiga kalinya secara berturut-turut.
Tekanan terhadap emas datang dari menguatnya nilai tukar dolar Amerika Serikat serta ekspektasi pasar bahwa bank sentral AS, Federal Reserve, masih akan mempertahankan kebijakan moneter yang ketat.
Baca Juga: Gempuran Brutal Israel Hantam Lebanon Selatan dan Timur: 30 Orang Tewas, Upaya Damai Terancam Kandas
Kondisi tersebut membuat sebagian investor mulai mengalihkan dana mereka ke instrumen yang dinilai lebih menguntungkan.
Berdasarkan data perdagangan internasional, harga emas spot turun sekitar 1,8 persen menjadi USD4.134,86 per ons. Sementara itu, kontrak berjangka emas Amerika Serikat untuk pengiriman Agustus juga ikut melemah sebesar 2,2 persen ke level USD4.152,25 per ons.
Secara mingguan, harga emas diperkirakan terkoreksi sekitar dua persen. Angka tersebut menandai penurunan selama tiga pekan beruntun, setelah sebelumnya emas sempat mencatat kenaikan signifikan akibat meningkatnya ketegangan geopolitik di Timur Tengah.
Namun, sentimen positif dari tercapainya kesepakatan perdamaian sementara antara Amerika Serikat dan Iran ternyata belum mampu menopang harga emas lebih lama.
Fokus pelaku pasar kini kembali tertuju pada arah kebijakan suku bunga Federal Reserve yang dinilai lebih berpengaruh terhadap pergerakan pasar global.
Analis menilai, penguatan dolar AS membuat harga emas menjadi lebih mahal bagi pemegang mata uang lain. Akibatnya, permintaan terhadap logam mulia cenderung berkurang sehingga memberikan tekanan tambahan terhadap harga.
Baca Juga: Kasus Tudingan Ijazah Jokowi Masuk Babak Baru, Roy Suryo dan Dokter Tifa Resmi Ditahan
Di sisi lain, sebagian investor juga mulai melakukan aksi ambil untung setelah harga emas sempat mencetak rekor tertinggi dalam beberapa bulan terakhir. Langkah tersebut dianggap wajar di tengah kondisi pasar yang masih dipenuhi ketidakpastian ekonomi global.
Meski sedang mengalami koreksi, sejumlah pengamat pasar masih melihat emas sebagai instrumen lindung nilai yang menarik dalam jangka panjang.