INSIBERNEWS - Sebuah video yang memperlihatkan dugaan aksi pemalakan terhadap sopir bajaj di kawasan Tanah Abang, Jakarta Pusat, viral di media sosial dan memicu keprihatinan publik.
Rekaman tersebut pertama kali diunggah melalui TikTok pada Jumat, 10 April 2026, dan dengan cepat menyita perhatian warganet.
Dalam video berdurasi 48 detik itu, terlihat seorang pria mendatangi sopir bajaj dan meminta sejumlah uang. Situasi menjadi janggal ketika diketahui bahwa sopir tersebut sebelumnya sudah memberikan uang kepada orang yang sama.
Baca Juga: Jokowi Respon Desakan Jusuf Kalla soal Ijazah, Tantang Pihak Penuduh Buktikan Klaimnya
“Tadi bukannya sudah dikasih?” tanya perekam video yang juga merupakan penumpang bajaj.
Sopir pun membenarkan bahwa ia telah memberikan uang sebelumnya, namun pelaku tetap memaksa meminta tambahan.
Percakapan dalam video mengungkap bahwa total uang yang harus disetor oleh sopir bajaj kepada oknum preman bisa mencapai Rp100.000 per hari. Angka tersebut dinilai cukup memberatkan, mengingat penghasilan sopir bajaj yang tidak menentu setiap harinya.
Baca Juga: Cukai Rokok Naik Lagi? Menkeu Purbaya Siapkan Layer Baru Mulai Mei 2026
Praktik ini diduga sudah berlangsung lama dan menjadi beban tersendiri bagi para sopir yang mencari nafkah di wilayah tersebut.
Lebih mengkhawatirkan, sopir bajaj dalam video tersebut mengaku kerap mendapat ancaman hingga tindakan kekerasan apabila menolak memberikan uang. Ia menyebut pelaku bisa meneriakinya maling atau bahkan merusak kendaraannya.
Sopir tersebut juga menunjukkan bagian kaca depan bajaj yang retak akibat dipukul, serta pintu kendaraan yang mengalami kerusakan. Meski mengalami tekanan, ia memilih untuk tidak melawan demi tetap bisa bekerja.
Baca Juga: AWG Sambut Baik Gencatan Senjata AS–Iran, Soroti Situasi Gaza yang Belum Stabil
“Bukan nggak berani, tapi saya cari makan di sini,” ujarnya.
Video ini telah ditonton ratusan ribu kali dan dibanjiri lebih dari seribu komentar. Banyak warganet yang mengecam tindakan pemalakan tersebut dan menyayangkan masih maraknya praktik premanisme di ruang publik.