Perjuangan Agusthinus tidak berhenti pada persoalan gaji. Setiap hari, ia harus berangkat ke sekolah sejak pagi dan menumpang truk yang melintas.
“Masuknya jam setengah 7 pagi. Numpang truk, lalu turun dan menunggu truk lagi untuk ke Batu Esa,” jelasnya.
Akses transportasi yang terbatas membuatnya harus bergantung pada kendaraan yang kebetulan melintas. Meski penuh tantangan, hal itu tidak menyurutkan semangatnya untuk hadir mengajar tepat waktu.
Video kisah Agusthinus telah diputar lebih dari 9 juta kali dan dibanjiri lebih dari 28 ribu komentar. Banyak warganet mengungkapkan rasa haru sekaligus keprihatinan terhadap kondisi yang dialami guru honorer tersebut.
Beberapa komentar bernada dukungan dan doa, menyebut pengabdian Agusthinus sebagai bukti ketulusan seorang pendidik sejati. Tak sedikit pula yang menyoroti perlunya perhatian lebih terhadap kesejahteraan guru honorer, terutama di daerah terpencil.
Kisah ini menjadi cerminan tantangan yang masih dihadapi banyak guru honorer di Indonesia, khususnya di wilayah terpencil seperti Nusa Tenggara Timur. Gaji minim, pembayaran tidak rutin, hingga keterbatasan fasilitas menjadi realitas yang harus dihadapi.
Baca Juga: Menkeu Purbaya Khawatir Gratifikasi, KPK Buka Suara soal Gift saat Live TikTok
Namun di balik segala keterbatasan, masih ada sosok-sosok seperti Agusthinus yang memilih bertahan demi mencerdaskan anak bangsa.
Kisahnya bukan sekadar viral di media sosial, tetapi juga menjadi pengingat bahwa di pelosok negeri, ada para guru yang tetap setia mengabdi meski dalam kondisi serba kekurangan. ***