INSIBERNEWS - Pimpinan Pusat Muhammadiyah resmi menetapkan awal Ramadhan 1447 Hijriah jatuh pada Rabu, 18 Februari 2026. Kepastian ini menjadi acuan bagi warga Muhammadiyah dalam menyambut dan menjalankan ibadah puasa pada tahun depan.
Penetapan tersebut tertuang dalam Maklumat Pimpinan Pusat Muhammadiyah Nomor 2/MLM/1.0/E/2025. Maklumat itu diterbitkan di Yogyakarta pada 22 September 2025 dan ditandatangani oleh Ketua Umum serta Sekretaris Pimpinan Pusat Muhammadiyah.
Baca Juga: Tiang Monorel Era Lama Akan Dibongkar, Pramono Anung Siap Percantik Rasuna Said dan Senayan
Keputusan ini diambil berdasarkan penerapan Kalender Hijriah Global Tunggal (KHGT), sebuah sistem kalender yang menjadi rujukan resmi Muhammadiyah dalam menentukan waktu-waktu ibadah. Sistem ini mengedepankan kepastian hisab dengan standar global yang telah disepakati.
Kalender Hijriah Global Tunggal sendiri merupakan hasil Musyawarah Nasional XXXII Tarjih Muhammadiyah yang digelar di Pekalongan pada tahun 2024.
Dalam forum tersebut, Muhammadiyah menyepakati prinsip, syarat, dan parameter baru dalam penetapan kalender Islam yang bersifat mendunia.
Baca Juga: Nadiem Makarim Buka-bukaan di Pengadilan: Dari Dunia Startup ke Kursi Menteri Tanpa Bekal Birokrasi
Tak hanya awal Ramadhan, Muhammadiyah juga menetapkan Hari Raya Idulfitri 1447 Hijriah. Berdasarkan maklumat yang sama, 1 Syawal 1447 H jatuh pada Jumat Legi, 20 Maret 2026.
Penetapan ini sekaligus memberikan kepastian jauh hari bagi warga Muhammadiyah untuk mempersiapkan rangkaian ibadah Ramadhan hingga perayaan Idulfitri, termasuk perencanaan kegiatan sosial, keagamaan, dan keluarga.
Dalam maklumat tersebut, Pimpinan Pusat Muhammadiyah berharap keputusan ini dapat dijadikan pedoman resmi oleh seluruh warga persyarikatan di berbagai daerah, baik di dalam maupun luar negeri.
“Demikian maklumat ini disampaikan agar menjadi panduan bagi warga Muhammadiyah dan dilaksanakan sebagaimana mestinya,” demikian bunyi penutup maklumat tersebut.
Dengan diumumkannya jadwal ini, Muhammadiyah kembali menegaskan konsistensinya dalam menggunakan metode hisab dan kalender global sebagai dasar penentuan waktu ibadah, sekaligus mendorong kepastian dan keseragaman dalam pelaksanaannya.***