news

Mulai Diserang Penyakit Kulit, Warga Korban Bencana di Tamiang Hulu Bertahan dengan Air Sisa Banjir

Sabtu, 27 Desember 2025 | 10:25 WIB
Warga di Tamiang Hulu, Aceh Tamiang menggunakan air sisa banjir untuk beraktivitas. (Instagram/a.muhammadkurniawan.s)

INSIBERNEWS - Selain kebutuhan pangan, air bersih menjadi bantuan paling mendesak bagi warga yang terdampak banjir di sejumlah wilayah Sumatera.

Hingga kini, masih banyak masyarakat yang terpaksa memanfaatkan air banjir untuk keperluan sehari-hari, seperti mandi, mencuci pakaian, hingga membersihkan peralatan makan.

Kondisi tersebut menimbulkan risiko kesehatan serius, terutama penyakit kulit, yang mulai dikeluhkan warga pascabanjir. Salah satu laporan datang dari Kecamatan Tamiang Hulu, Kabupaten Aceh Tamiang.

Baca Juga: AS Dorong Fase Kedua Gencatan Senjata Gaza Awal Januari, Israel Khawatir Isu Perlucutan Senjata

Keluhan Gatal dan Koreng Mulai Dialami Warga
Penggunaan air yang diduga telah tercemar membuat sejumlah warga mengalami gangguan kesehatan. Keluhan gatal-gatal hingga luka koreng di kulit kini mulai bermunculan, termasuk pada anak-anak.

Seorang warga setempat mengungkapkan bahwa mereka tidak lagi memiliki akses ke air bersih seperti sebelumnya.

“Biasanya mandi pakai air bersih dari PAM, sekarang pakai air sumur. Air sumur ini juga berasal dari air banjir,” ujarnya dalam unggahan akun Instagram @a.muhammadkurniawan.s, dikutip Sabtu, 27 Desember 2025.

Baca Juga: Kemhan Bantah Isu Pelantikan Ayu Aulia, Tegaskan Tak Ada Penugasan Resmi

Ia menduga air tersebut mengandung bakteri yang menyebabkan iritasi kulit. Bahkan, seluruh anggota keluarganya turut merasakan dampaknya.

“Anak saya sudah korengan, gatal-gatal. Saya juga mengalami hal yang sama,” tambahnya.

Air Banjir Terpaksa Digunakan untuk Aktivitas Harian
Dalam unggahan video tersebut, terlihat warga mencuci peralatan makan menggunakan air berwarna coklat dan keruh sisa banjir. Kondisi darurat memaksa masyarakat tetap menggunakan air tersebut demi memenuhi kebutuhan dasar.

Keterbatasan sumber air bersih membuat warga tidak memiliki pilihan lain, meskipun menyadari risiko kesehatan yang mengintai.

Baca Juga: Akses Putus Tak Kunjung Pulih, Warga Syiah Utama Bener Meriah Masih Bertahan dalam Keterisolasian

Air Bersih dan Layanan Kesehatan Jadi Kebutuhan Utama Saat Bencana
Menanggapi kondisi tersebut, Ketua Umum PB Ikatan Dokter Indonesia (IDI) periode 2018–2021, dr. Daeng Mohammad Faqih, menegaskan bahwa air bersih dan obat-obatan merupakan kebutuhan vital dalam situasi bencana.

Halaman:

Tags

Terkini