news

Akses Putus Tak Kunjung Pulih, Warga Syiah Utama Bener Meriah Masih Bertahan dalam Keterisolasian

Jumat, 26 Desember 2025 | 19:46 WIB
Sejumlah akses jalan masih terputus di Bener Meriah, Aceh. (Instagram/dr.ilhamsyhputra)

INSIBERNEWS - Sebulan setelah banjir bandang dan tanah longsor melanda sejumlah wilayah di Sumatera, persoalan akses masih menjadi hambatan utama di beberapa daerah. Jalan yang terputus dan jembatan rusak membuat penyaluran bantuan belum sepenuhnya menjangkau warga terdampak.

Di Aceh, kondisi tersebut masih dirasakan warga Kecamatan Syiah Utama, Kabupaten Bener Meriah. Hingga akhir Desember 2025, distribusi logistik ke wilayah ini belum berjalan optimal karena akses utama yang menghubungkan antar-kampung belum pulih.

Seorang dokter sekaligus relawan kemanusiaan Aceh mengungkapkan, tim relawan kesulitan menjangkau seluruh wilayah Syiah Utama. Hal itu ia sampaikan melalui unggahan di akun Instagram pribadinya, @dr.ilhamsyhputra, pada Jumat, 26 Desember 2025.

Baca Juga: Bertahan di Atap Saat Diterjang Banjir, Warga Aceh Tamiang Kenang Malam Panjang Bersama 18 Orang

“Akses jalan utama di Kecamatan Syiah Utama, Bener Meriah, masih terputus. Banyak wilayah yang sampai sekarang belum bisa dijangkau,” tulisnya.

Ia menjelaskan, tim relawan baru bisa mencapai Kampung Tembolon hingga perbatasan Rusip. Padahal, terdapat sedikitnya 14 kampung di Syiah Utama yang masih membutuhkan bantuan logistik dan layanan dasar.

Untuk membuka keterisolasian, warga setempat bersama personel TNI dan Polri membangun jembatan darurat secara swadaya. Namun, jembatan tersebut dibuat sangat sederhana dan berisiko tinggi, terutama saat dilalui kendaraan yang membawa muatan bantuan.

Baca Juga: Dokter Detektif Tak Ditahan Meski Jadi Tersangka, Polisi Dorong Jalan Damai dengan Richard Lee

“Jembatan lama putus dan rusak. Warga bersama TNI dan Polri membangun jembatan seadanya. Tapi kondisinya sangat berbahaya kalau dilalui kendaraan bermuatan,” ungkapnya.

Akibat kondisi itu, mobil bantuan terpaksa melakukan bongkar muat sebelum masuk desa. Sebagian logistik harus dipindahkan dan dibawa secara bertahap agar tidak membahayakan warga maupun relawan yang melintas.

“Sebelumnya jembatan darurat itu hanya bisa dilalui pejalan kaki. Sekarang dipaksakan untuk distribusi, tapi risikonya besar,” tambahnya.

Baca Juga: Kejagung Kocok Ulang Pejabat, Kursi Kajari Bekasi Berganti Usai OTT KPK

Terputusnya akses juga membuat sejumlah desa masih terisolasi hingga kini. Listrik belum kembali menyala, aktivitas ekonomi lumpuh, dan mata pencaharian warga, terutama petani, ikut terdampak parah.

“Sudah satu bulan listrik belum masuk, jalan terputus, warga masih terisolasi, dan kebun serta ladang petani rusak. Kami berharap lebih banyak bantuan bisa masuk ke wilayah ini,” tulisnya.

Halaman:

Tags

Terkini