news

Rencana 'Proyek Sunrise' untuk Gaza Picu Polemik, Kota Futuristik Berbasis AI Dinilai Tak Realistis

Senin, 22 Desember 2025 | 12:37 WIB
Ilustrasi - Gaza (Unsplash )

INSIBERNEWS - Amerika Serikat dikabarkan tengah menyiapkan sebuah gagasan ambisius bernama Proyek Sunrise, yang disebut-sebut bertujuan mengubah Jalur Gaza menjadi kawasan metropolitan futuristik berbasis kecerdasan buatan (AI).

Rencana tersebut digambarkan sebagai proyek jangka panjang dengan infrastruktur supercanggih yang menyerupai kota masa depan.

Sejumlah sumber internasional menyebutkan, proyek ini digagas oleh tim yang memiliki kedekatan dengan Presiden Amerika Serikat, Donald Trump. Nilai investasinya diperkirakan mencapai lebih dari USD112 miliar atau setara sekitar Rp1.900 triliun, dengan waktu pembangunan yang diproyeksikan berlangsung lebih dari dua dekade.

Baca Juga: Cuaca Ekstrem Masih Mengintai Sumatera, Warga Diminta Waspada Risiko Pascabencana

Dalam dokumen proposal yang beredar, Jalur Gaza digambarkan akan ditata ulang menjadi kota modern dengan konsep ramah teknologi. Kawasan tersebut dirancang memiliki sistem transportasi pintar berbasis AI, jaringan kereta cepat, pusat bisnis digital, hingga resor dan kawasan hunian kelas atas.

Proyek Sunrise disebut mengusung visi menjadikan Gaza sebagai pusat ekonomi baru di kawasan Timur Tengah. Pembangunan akan dilakukan secara bertahap selama lebih dari 20 tahun, dimulai dari infrastruktur dasar hingga pengembangan kawasan metropolitan berskala internasional.

Namun, rencana besar ini menuai kritik dan kontroversi luas. Banyak pihak menilai proyek tersebut terkesan mengabaikan realitas politik dan kondisi kemanusiaan di Gaza yang hingga kini masih dilanda konflik berkepanjangan serta krisis kemanusiaan serius.

Baca Juga: Kecelakaan Maut Bus Cahaya Trans di Tol Krapyak Dini Hari, 16 Orang Meninggal Dunia

Sorotan tajam juga diarahkan pada skema pendanaan proyek. Meski proposal menyebut keterlibatan lembaga keuangan global seperti World Bank, hingga kini belum ada kejelasan resmi mengenai mekanisme pembiayaan, pembagian peran, maupun komitmen konkret dari para pemangku kepentingan.

Pengamat politik internasional menilai, tanpa adanya solusi politik yang menyeluruh dan jaminan stabilitas keamanan, proyek berskala raksasa semacam ini sulit direalisasikan. Mereka juga mempertanyakan legitimasi pihak-pihak yang menggagas proyek tersebut dalam konteks hukum dan kedaulatan wilayah Gaza.

Di sisi lain, sejumlah kalangan menilai gagasan ini mencerminkan pendekatan pembangunan yang terlalu berorientasi pada teknologi dan investasi, tanpa menempatkan kebutuhan dasar warga Gaza—seperti keamanan, kesehatan, dan pemulihan pascakonflik—sebagai prioritas utama.

Baca Juga: Tuai Kagum Warganet! Di Tengah Pascabencana Banjir, Warga Aceh Justru Menangis untuk Gaza Palestina

Hingga saat ini, Proyek Sunrise masih berada pada tahap konsep dan wacana. Belum ada keputusan resmi atau kesepakatan internasional yang mengikat, sementara perdebatan terus bergulir mengenai apakah proyek futuristik ini benar-benar solusi, atau sekadar mimpi besar yang jauh dari kenyataan di lapangan.***

Tags

Terkini