news

Bertaruh Nyawa di Arus Banjir, Kisah Sertu Giman Selamatkan Bayi Pakai Baskom di Aceh Tamiang

Minggu, 21 Desember 2025 | 12:30 WIB
Kisah Sertu Giman Selamatkan Bayi Pakai Baskom saat di Terjang Arus Banjir (Foto : istimewa)

INSIBERNEWS - Banjir bandang yang melanda Kecamatan Karangbaru, Kabupaten Aceh Tamiang, menyisakan kisah kemanusiaan dari seorang prajurit TNI. Sersan Satu (Sertu) Giman Saputra, anggota Koramil 02 Karangbaru, Kodim 0117/Aceh Tamiang, harus berenang menembus arus deras demi menyelamatkan warga, termasuk seorang bayi berusia dua bulan yang dievakuasi menggunakan baskom.

Peristiwa dramatis itu terjadi pada 26 November 2025, saat hujan deras mengguyur wilayah Aceh Tamiang sejak malam sebelumnya.

Air sungai meluap cepat dan merendam permukiman warga hingga ketinggian lebih dari empat meter. Bahkan pada hari berikutnya, air kembali naik dan diperkirakan menembus lebih dari enam meter.

Baca Juga: Berenang di Arus Banjir Demi Nyawa Warga, Kisah Sertu Giman yang Tak Peduli Rumahnya Hancur

Giman mengungkapkan, sebelum banjir datang ia baru saja pulang dari kantor desa usai mengikuti kegiatan pemilihan kepala desa. Menjelang malam, situasi berubah drastis. Air mulai masuk ke rumah-rumah warga dengan arus yang semakin kuat, membuatnya tak sempat menyelamatkan harta benda milik keluarganya.

Di tengah kepanikan itu, Giman mendapat informasi masih ada warga yang terjebak di dalam rumah dan bertahan di atas atap seng. Beberapa di antaranya adalah balita dan lansia yang tidak mampu menyelamatkan diri. Tanpa menunggu bantuan, ia bersama istrinya langsung berupaya memberikan pertolongan.

Dengan peralatan seadanya, Giman nekat menjebol dinding rumah warga untuk membuka jalur evakuasi. Di dalam rumah tersebut terdapat delapan orang, termasuk seorang bayi berusia dua bulan. Kondisi semakin berbahaya karena sejumlah bangunan di sekitar mulai roboh, sementara arus air terus membawa puing dan material berbahaya.

Baca Juga: Video Viral Ungkap Dugaan Pencemaran Solar di Genangan Air Pascabanjir Aceh Tamiang

Karena tidak tersedia perahu, Giman memilih berenang menggunakan ban bekas dan pelampung seadanya. Ia harus bolak-balik mengevakuasi warga satu per satu, melewati tiang listrik serta kabel yang terendam air. Risiko tersengat listrik dan terseret arus menjadi ancaman nyata saat itu.

“Air waktu itu sekitar empat setengah meter, arusnya kencang sekali. Perahu tidak bisa masuk karena banyak seng dan puing yang menghalangi,” ujarnya saat ditemui di sekitar rumahnya, Jumat (19/12).

Situasi paling genting terjadi ketika Giman harus menyelamatkan bayi yang masih sangat kecil. Ia menyadari risiko besar jika bayi digendong di tengah arus deras.

Baca Juga: Alat Berat Dikerahkan Pascabanjir di Aceh, Lumpur Mengeras Jadi Tantangan Baru Warga

“Saya bilang ke kakeknya, kalau bayi ini digendong, saya tidak berani jamin keselamatannya. Saya minta dicarikan baskom untuk bayi itu,” katanya.

Bayi tersebut akhirnya dievakuasi lebih dulu menggunakan baskom plastik, saat atap seng tempat warga berlindung sudah bergoyang dan nyaris hanyut terbentur arus. Setelah memastikan bayi aman, Giman kembali mengevakuasi warga lainnya hingga seluruhnya berhasil keluar dari lokasi berbahaya.

Halaman:

Tags

Terkini