INSIBERNEWS - Menteri Unifikasi Korea Selatan, Chung Dong-young, memperingatkan bahwa Korea Utara kini memiliki kemampuan untuk menyerang daratan utama Amerika Serikat (AS) melalui rudal balistik antarbenua (ICBM) terbaru mereka.
Pernyataan ini disampaikan saat Chung menghadiri konferensi pers di Berlin, Senin kemarin, bertepatan dengan upacara peringatan penyatuan Jerman.
Baca Juga: Meta Rilis Panduan Baru untuk Cegah Obrolan Tidak Pantas AI dengan Anak-anak
“Korea Utara telah menjadi salah satu dari tiga negara yang mampu menyerang daratan AS. Apa yang perlu diakui harus diakui secara rasional,” ujar Chung, dikutip Korea JoongAng Daily, Selasa, 30 September 2025. Pernyataan ini menekankan perubahan signifikan dalam kapasitas militer Pyongyang.
Sejak Oktober tahun lalu, Korea Utara mengklaim telah mencapai “tingkat dominasi yang tidak dapat diubah” dalam pengembangan rudal setelah sukses menguji ICBM Hwasong-19.
Rudal ini diklaim mampu menjangkau daratan utama AS, menandai kemajuan besar dibandingkan situasi 2018 saat pertemuan puncak pertama antara Pyongyang dan Washington di Singapura.
Baca Juga: Apple Siap Produksi MacBook Pro Baru, Peluncuran Diprediksi Awal 2026
Chung menilai kemajuan rudal Korea Utara menempatkan negara tersebut dalam posisi strategis baru yang harus diperhitungkan secara serius dalam diplomasi regional. Ia menegaskan bahwa situasi ini menandai titik awal baru dalam menangani rezim Kim Jong-un.
Menteri Unifikasi Korea Selatan juga menyinggung kemungkinan penyelenggaraan kembali KTT antara Kim Jong-un dan Presiden AS Donald Trump.
Ia menekankan bahwa kedua pemimpin telah menunjukkan keinginan untuk bertemu kembali, meski tantangan diplomasi tetap tinggi.
Baca Juga: BUMN Asuransi dan Reasuransi Bakal Dikonsolidasikan Jadi Tiga Perusahaan Utama
Meski demikian, Chung memperingatkan bahwa Washington kemungkinan besar tidak akan mendanai proyek-proyek besar Korea Utara, meski tercapai kesepakatan keamanan. Hal ini menunjukkan bahwa peran Amerika dalam reformasi ekonomi Pyongyang masih terbatas.
Menurut Chung, jika Kim Jong-un mencari reformasi ekonomi dan keterbukaan, jalan yang realistis adalah melalui kerja sama dengan Korea Selatan. Seoul dapat menjadi mediator sekaligus mitra strategis dalam upaya stabilisasi ekonomi dan politik di Semenanjung Korea.
Baca Juga: Presiden Kolombia Gustavo Petro: Dari Gerilya Klandestin ke Podium PBB, Melawan dengan Suara