news

Proyek Kota Modern AS 'Gaza Riviera' Bocor, Diduga Libatkan Investor Besar dengan Dana Fantastis

Rabu, 3 September 2025 | 14:25 WIB
Potret Presiden Amerika Serikat Donald Trump (foto: Istimewa)

INSIBERNEWS - Isu pembangunan kota modern di Gaza kembali mencuat setelah dokumen prospektus setebal 38 halaman bocor ke publik dan dilaporkan oleh media Amerika Serikat, Washington Post.

Di tengah situasi konflik berkepanjangan akibat serangan Israel, muncul rencana kontroversial yang disebut sebagai “Gaza Riviera” dan dikaitkan langsung dengan inisiatif mantan Presiden AS, Donald Trump.

Baca Juga: Vanenburg Tantang Pemain Naturalisasi Buktikan Diri di Kualifikasi Piala Asia U-23

Dalam bocoran dokumen tersebut, Gaza disebut akan disulap menjadi kawasan futuristik mirip proyek Neom di Arab Saudi. Tidak tanggung-tanggung, seluruh penduduk Gaza lebih dari dua juta jiwa direncanakan dipindahkan secara paksa, dengan wilayah itu kemudian ditempatkan di bawah perwalian Amerika Serikat selama sedikitnya sepuluh tahun.

Baca Juga: AI Jadi Andalan Pekerja Remote, Bikin Kerja Jarak Jauh Lebih Efisien dan Minim Stres

Rencana pemindahan ini disertai skema kompensasi berbentuk “token digital” yang disebut dapat digunakan warga Gaza untuk membiayai hidup mereka di luar wilayah tersebut.

“Mereka akan ditawari token digital sebagai imbalan atas hak membangun kembali,” tertulis dalam prospektus yang bocor ke media.

Proyek ini diberi nama resmi The Gaza Reconstitution, Economic Acceleration and Transformation Trust atau disingkat GREAT. Konsorsium yang mendorong ide ini disebut melibatkan pihak asal Israel, yayasan Gaza Humanitarian Foundation, dan dukungan dari kalangan investor swasta.

Baca Juga: Jangan Remehkan Air Radiator, Bisa Jadi Penyelamat Mesin Mobil Anda

Laporan juga menyebut Boston Consulting Group terlibat dalam perencanaan keuangannya. Target dana yang dihimpun mencapai 100 miliar dolar AS atau sekitar Rp1.642 triliun, tanpa campur tangan langsung dari pemerintah AS.

Dalam rancangan proyek, Gaza akan diubah menjadi kota pelabuhan modern lengkap dengan delapan kota satelit yang ditenagai kecerdasan buatan.

Tidak hanya itu, sebuah kawasan manufaktur bernama “Elon Musk” juga akan dibangun di bekas zona industri Erez, wilayah yang sebelumnya dihancurkan militer Israel setelah bertahun-tahun dimanfaatkan sebagai pusat tenaga kerja murah Palestina.

Baca Juga: Jang Wonyoung Bocorkan Impian Masa Depan dan Tipe Pria Ideal, Jawabannya Jadi Sorotan

Meski begitu, hingga kini belum jelas apakah dokumen ini mencerminkan kebijakan resmi pemerintah AS. Baik Gedung Putih maupun Departemen Luar Negeri AS menolak berkomentar.

Halaman:

Tags

Terkini