INSIBERNEWS - Presiden Amerika Serikat (AS), Donald Trump, angkat bicara terkait situasi terbaru di Gaza. Dalam pernyataannya pada Minggu (27/7/2025), Trump menegaskan bahwa Israel harus segera menentukan langkah selanjutnya setelah upaya perundingan gencatan senjata kembali menemui jalan buntu.
Trump menyebut bahwa pembebasan sandera menjadi hal yang paling mendesak. Ia menilai negosiasi yang dilakukan sejauh ini tidak membawa perkembangan berarti karena Hamas bersikap semakin keras dalam tuntutannya.
Baca Juga: Ruben Onsu Geram Anak Difitnah di TikTok, Siap Tempuh Jalur Hukum
“Mereka tidak ingin mengembalikannya, jadi Israel harus membuat keputusan,” ujar Trump kepada wartawan dalam konferensi pers bersama Presiden Komisi Eropa Ursula von der Leyen di Skotlandia.
Trump tidak secara gamblang menyampaikan langkah yang ia sarankan kepada Israel, namun menegaskan bahwa ia sudah tahu apa yang akan dilakukan jika berada di posisi tersebut.
“Saya tahu apa yang akan saya lakukan, tetapi saya rasa tidak pantas saya mengatakannya,” ucapnya.
Baca Juga: Link Streaming dan Head to Head Timnas Indonesia vs Vietnam, Malam Ini di Final Piala AFF U23 2025
Menurut Trump, kesepakatan dengan Hamas mungkin bisa dicapai setelah jumlah sandera berkurang. Namun ia juga mengingatkan bahwa Hamas merasa proses tersebut bisa menjadi akhir bagi mereka jika dilakukan.
Di sisi lain, Trump menyinggung dukungan AS untuk Gaza di tengah situasi sulit ini. Ia menyebut pemerintah AS telah menyalurkan bantuan senilai USD 60 juta atau sekitar Rp 900 miliar dalam dua minggu terakhir untuk kebutuhan pangan di Gaza.
“Kami memberikan USD 60 juta dua minggu yang lalu untuk makanan ke Gaza,” kata Trump.
Namun ia mengeluhkan minimnya apresiasi dari pihak-pihak terkait.
“Tidak ada yang mengakuinya; tidak ada yang membicarakannya. Rasanya agak buruk ketika Anda melakukannya, sementara negara lain tidak memberikan apa pun,” tambahnya.
Situasi di Gaza masih belum menunjukkan tanda-tanda mereda. Dengan gencatan senjata yang gagal dan pembebasan sandera yang buntu, tekanan kini semakin besar bagi Israel untuk menentukan strategi berikutnya.***