INSIBERNEWS - Nilai tukar rupiah terhadap dolar AS tetap menunjukkan performa yang solid sepanjang kuartal II-2025. Menteri Keuangan Sri Mulyani Indrawati memastikan stabilitas kurs ini berdampak positif bagi perekonomian nasional, termasuk harga pangan, bahan bakar, dan bahan baku industri yang lebih terkendali.
“Nilai tukar rupiah tetap stabil dan bahkan cenderung menguat,” ujar Sri Mulyani dalam Konferensi Pers Hasil Rapat Berkala KSSK III Tahun 2025, Senin (28/7/2025).
Baca Juga: Tesla Gaet Samsung Produksi Chip A16, Nilai Kontrak Tembus Rp270 Triliun
Ia mengakui bahwa sempat ada tekanan pada awal kuartal II. Kondisi global yang memanas, baik dari sisi geopolitik maupun dinamika pasar keuangan, membuat rupiah sempat terguncang.
“Tekanan terutama datang dari pasar Non-Deliverable Forward (NDF) offshore. Namun Bank Indonesia bergerak cepat melakukan intervensi berkelanjutan,” jelasnya.
Baca Juga: Trump Tolak Transit Pemimpin Taiwan di New York, Beijing Disebut Jadi Faktor Penentu
Langkah antisipatif BI disebut mampu menjaga kepercayaan pasar. Rupiah yang stabil memberikan sinyal positif bagi investor, sekaligus menjaga harga impor tetap terkendali di tengah fluktuasi global.
Stabilitas ini juga memberikan efek domino ke sektor lain. Harga BBM dan bahan pokok yang sebagian besar dipengaruhi nilai tukar tidak mengalami lonjakan signifikan, sehingga daya beli masyarakat tetap terjaga.
Baca Juga: Minibus Terjun ke Jurang di Jalur Wisata Pacet, Satu Tewas dan Lima Luka-Luka
Sri Mulyani menekankan pentingnya sinergi kebijakan antara Kementerian Keuangan, BI, Otoritas Jasa Keuangan (OJK), dan Lembaga Penjamin Simpanan (LPS) dalam menjaga stabilitas moneter dan fiskal di tengah ketidakpastian global.
Dengan kondisi rupiah yang relatif aman, pemerintah optimistis perekonomian Indonesia akan tetap tumbuh stabil di sisa 2025, meski dinamika global diperkirakan masih akan menjadi tantangan besar hingga akhir tahun.