INSIBERNEWS — Kasus demam berdarah dengue (DBD) di Kabupaten Garut, Jawa Barat, terus mengalami lonjakan seiring masih berlangsungnya musim hujan.
Hingga akhir Juni 2025, tercatat sudah 1.368 warga terserang penyakit yang disebabkan oleh gigitan nyamuk Aedes aegypti ini. Dari jumlah itu, tujuh orang meninggal dunia dan sepuluh lainnya masih dirawat intensif di sejumlah rumah sakit.
Baca Juga: Lewat Rapat Daring Malam Hari, Prabowo Rumuskan Arah Baru Ketahanan Nasional
Sekretaris Dinas Kesehatan (Dinkes) Kabupaten Garut, Yodi Sirojudin, mengungkapkan bahwa peningkatan kasus DBD sudah terlihat sejak awal Januari dan terus merangkak naik hingga pertengahan tahun ini.
Ia menilai salah satu penyebab tingginya penyebaran adalah kurangnya kesadaran masyarakat dalam menjaga kebersihan lingkungan, terutama saat curah hujan masih tinggi.
Baca Juga: Belum Usai Haji 2025, Arab Saudi Sudah Tancap Gas Siapkan Musim Haji 2026
"Kasus ini memang terus meningkat, dan sebagian besar ditemukan di laporan puskesmas wilayah. Sayangnya, tujuh pasien tidak berhasil diselamatkan," ujar Yodi saat ditemui pada Senin, 30 Juni 2025.
Baca Juga: Jabatan Dubes Kosong di Negara Penting, Menlu Sugiono Akui Kecolongan dan Janjikan Perbaikan Cepat
Menurutnya, para korban DBD berasal dari berbagai kelompok usia, mulai dari anak-anak hingga lansia. Kondisi ini menjadi perhatian serius karena menunjukkan bahwa virus dengue tidak mengenal batas umur dan bisa menyerang siapa saja, apalagi jika kondisi daya tahan tubuh sedang menurun.
Tim medis dan petugas lapangan dari Dinkes Garut masih terus berjibaku memberikan perawatan kepada pasien yang dirawat di RSUD Dr. Slamet maupun rumah sakit swasta lainnya. Sebagian besar pasien disebut sudah mulai menunjukkan tanda-tanda pemulihan, namun kewaspadaan harus tetap dijaga.
Yodi menegaskan bahwa pihaknya terus menggencarkan sosialisasi dan edukasi kepada masyarakat mengenai pentingnya pencegahan DBD.
Baca Juga: ANTAM Bersama IBC Wujudkan Ekosistem Industri EV Terintegrasi bersama CBL
Langkah sederhana seperti menguras tempat penampungan air, menutup wadah air, dan mengubur barang bekas (prinsip 3M), menurutnya, masih menjadi metode yang paling efektif untuk memutus siklus hidup nyamuk.