INSIBERNEWS - Ketegangan bersenjata antara Israel dan Iran kini memasuki hari ketujuh dan terus memakan korban jiwa dalam jumlah besar. Laporan terbaru dari kelompok pemantau HAM, Human Right Activist (HRA), menyebutkan bahwa total korban tewas akibat serangan Israel ke wilayah Iran telah mencapai 639 orang.
Baca Juga: Biodata Husna Al Malik yang Dipanggil TC Timnas Indonesia untuk Piala AFF U23 2025
Dari jumlah tersebut, sebanyak 263 di antaranya adalah warga sipil, sementara 154 korban lainnya merupakan anggota aparat keamanan Iran. Data ini dikumpulkan berdasarkan verifikasi silang antara laporan lokal di lapangan dan jaringan informasi yang dikembangkan HRA di Iran selama bertahun-tahun.
“Jumlah korban diperiksa ulang dengan laporan lokal di Iran dan jaringan sumber yang dikembangkan di negara itu,” bunyi pernyataan kelompok HRA, seperti dilansir Al Jazeera, Kamis (19/6).
Baca Juga: Dari Balik Sel, Hasto Siapkan Pleidoi Berbasis AI dan Falsafah Hukum
Angka ini jauh lebih tinggi dibandingkan data resmi terakhir yang disampaikan pemerintah Iran, yang pada awal pekan menyebut jumlah korban sebanyak 224 orang tewas dan lebih dari 1.200 lainnya luka-luka.
Sejak itu, otoritas Iran belum memperbarui angka resmi korban, meski serangan udara dan serangan rudal terus berlanjut di sejumlah kota besar.
Serangan dari Israel disebut-sebut menargetkan fasilitas militer strategis, termasuk pusat komando Garda Revolusi Iran dan lokasi-lokasi yang diyakini terkait program pertahanan dan intelijen negara tersebut.
Iran bahkan telah mengonfirmasi kematian sejumlah jenderal penting, termasuk Panglima Angkatan Bersenjata, pimpinan Garda Revolusi, serta Kepala Dinas Intelijen, dalam serangan yang terjadi sejak Jumat, 13 Juni lalu.
Baca Juga: Kemenkes Percepat Vaksinasi HPV untuk Tekan Angka Kematian Kanker Serviks di Indonesia
Di tengah kekacauan, pemerintah Iran mengklaim akan terus melakukan perlawanan dengan melancarkan serangan balik. Namun, tekanan juga datang dari dalam negeri. Situasi ini memicu kekhawatiran baru atas stabilitas politik dan keamanan Iran, apalagi negara tersebut belum sepenuhnya pulih dari gejolak demo besar-besaran yang terjadi pada 2022 lalu.
Baca Juga: Polisi Tangkap Pelaku Mutilasi Diduga Bunuh 3 Orang di Sumbar
Konflik terbuka antara dua musuh bebuyutan di Timur Tengah ini bukan hanya berdampak pada warga sipil, tapi juga menimbulkan ketegangan diplomatik yang meluas. Dunia internasional terus mendesak kedua negara untuk menahan diri, namun hingga kini belum ada tanda-tanda meredanya eskalasi militer yang bisa berubah menjadi perang regional berskala besar.