INSIBERNEWS –Perdana Menteri Israel, Benjamin Netanyahu, bikin geger dunia internasional setelah mengumumkan bahwa Mohammed Sinwar — pemimpin Hamas di Gaza — telah tewas dalam serangan militer.
Pernyataan ini disampaikannya dalam sidang pleno parlemen Israel dan langsung ramai jadi perbincangan global.
"Kami telah melenyapkan Mohammed Sinwar," begitu kata Netanyahu seperti dikutip dari AFP, Rabu (28/5). Ia juga menyebut bahwa operasi militer ini dilakukan pada 21 Mei lalu.
Baca Juga: Telkomsel Umumkan Susunan Baru Direksi dan Komisaris, Diaz Hendropriyono Jadi Komisaris Utama
Siapa sebenarnya Mohammed Sinwar? Nama ini mungkin belum sepopuler saudaranya, Yahya Sinwar, yang sebelumnya dikenal sebagai salah satu pemimpin tertinggi Hamas.
Tapi jangan salah, Mohammed bukan figur sembarangan. Ia disebut-sebut punya peran strategis dalam jaringan Hamas, dan termasuk target paling dicari oleh militer Israel.
Baca Juga: Waduh! Dedi Mulyadi Jadi Korban Teror, Curhat Sudah 2 Kali Dapat Kiriman Ular Kobra di Rumahnya
Diserang di Bawah Rumah Sakit Eropa Gaza
Yang bikin kabar ini makin mengundang perhatian, bukan cuma karena status Mohammed sebagai tokoh penting Hamas, tapi juga lokasi serangannya.
Militer Israel melaporkan bahwa targetnya berada di bawah Rumah Sakit Eropa di Khan Younis, kota di Gaza bagian selatan yang merupakan kampung halaman keluarga Sinwar.
Serangan ke fasilitas ini menewaskan enam orang dan melukai sekitar 40 lainnya, menurut Kementerian Kesehatan Gaza.
Meski klaim Israel menyebut serangan ditujukan ke pusat komando Hamas, banyak pihak mempertanyakan dampak humaniternya — karena dilakukan di sekitar fasilitas medis, yang seharusnya mendapat perlindungan berdasarkan hukum internasional.
Baca Juga: Modantara Ingatkan Pentingnya Kebijakan Bijak bagi Masa Depan Ojol dan Kurir Digital
Belum Ada Konfirmasi Independen
Perlu dicatat, hingga saat ini belum ada konfirmasi independen dari sumber-sumber internasional atau pihak Palestina mengenai tewasnya Mohammed Sinwar.
Situasi ini memunculkan banyak spekulasi — apakah klaim Netanyahu murni strategi perang psikologis, atau memang berdasarkan intelijen solid?