INSIBERNEWS - Program Makan Bergizi Gratis (MBG) yang diusung pemerintahan Presiden Prabowo Subianto dinilai punya dampak lebih luas dari sekadar mengatasi kelaparan.
Badan Gizi Nasional (BGN) menilai, salah satu efek positif dari program ini adalah potensi penurunan angka tawuran pelajar, yang selama ini menjadi masalah sosial di berbagai wilayah.
Deputi Bidang Sistem dan Tata Kelola BGN, Tigor Pangaribuan, mengatakan bahwa rasa lapar bukan hanya soal perut kosong, tapi juga bisa berimbas ke kondisi emosional anak-anak.
"Anak yang lapar cenderung lebih mudah marah dan tersulut emosi. Itu sebabnya, tawuran bisa saja dipicu dari hal sesederhana kurang makan," ujar Tigor.
Baca Juga: Kemenag Laporkan 8 Jemaah Haji WNI Meninggal Dunia, Pastikan Keluarga Tak Perlu Khawatir Soal Hak
Ia menegaskan bahwa negara punya tanggung jawab moral dan konstitusional untuk memastikan setiap anak mendapatkan asupan gizi yang layak. Menurutnya, kegagalan negara dalam menjamin kebutuhan dasar seperti pangan bisa berdampak panjang, mulai dari tingginya kekerasan di kalangan remaja hingga lemahnya daya saing generasi mendatang.
Tigor juga optimistis bahwa MBG tak hanya menurunkan potensi konflik sosial, tapi juga berkontribusi terhadap peningkatan kualitas kecerdasan anak-anak Indonesia dalam jangka panjang. Ia menyebut, jika program ini berjalan konsisten selama dua dekade, maka akan tampak lompatan besar pada indeks pembangunan manusia di masa depan.
Baca Juga: Amnesty Soroti Penangkapan Mahasiswi ITB, Sebut Polisi Kian Represif di Dunia Digital
Program Makan Bergizi Gratis sendiri tengah dipersiapkan untuk diluncurkan secara nasional, dengan target menyasar anak-anak usia sekolah dari keluarga menengah ke bawah.
Selain mengisi perut, program ini juga diharapkan bisa mengisi harapan—bahwa masa depan Indonesia lebih tenang, lebih sehat, dan lebih cerdas.