INSIBERNEWS - Ketua DPR RI Puan Maharani menyampaikan keprihatinannya terhadap fenomena makin banyaknya perempuan, khususnya mereka yang menjadi kepala keluarga, terjebak dalam jeratan pinjaman online (pinjol).
Menurutnya, maraknya kasus ini mencerminkan tekanan ekonomi yang berat dan minimnya perlindungan terhadap kelompok rentan dalam sistem keuangan digital yang terus berkembang.
"Lonjakan jumlah perempuan yang tertimpa masalah pinjol, apalagi mereka yang menanggung beban sebagai kepala keluarga, menunjukkan mereka tidak punya banyak pilihan ketika kondisi ekonomi menghimpit. Ini menjadi alarm bagi kita semua," ujar Puan, Senin (28/4).
Baca Juga: Menjadi PR yang Sangat Besar, Rosan Roeslani Ungkap Danantara Siap Kelola GBK
Laporan dari Lembaga Bantuan Hukum (LBH) Jakarta mengungkapkan bahwa sepanjang 2018 hingga 2024, terdapat hampir dua ribu laporan dari korban pinjol, dan lebih dari 62 persen di antaranya adalah perempuan.
Sebuah riset dari Departemen Kriminologi FISIP Universitas Indonesia pada 2022 juga mengungkap bahwa perempuan kerap menggunakan layanan pinjol untuk menutup kebutuhan rumah tangga, biaya pribadi, bahkan sebagai modal usaha kecil-kecilan.
Namun kenyataannya, pinjaman yang semula dianggap solusi instan justru sering kali berubah menjadi beban berat akibat bunga yang tinggi, denda keterlambatan yang mencekik, hingga sistem penagihan yang tidak manusiawi.
Kondisi ini membuat banyak perempuan makin terpuruk dan sulit keluar dari lingkaran utang.
Baca Juga: Bukan Cuma Aset BUMN, GBK Juga Bakal Diambil Alih Danantara
Melihat kondisi ini, Puan mendesak negara tidak tinggal diam. Ia mendorong pemerintah dan lembaga terkait untuk memperketat pengawasan terhadap industri pinjol, sembari menyediakan layanan keuangan yang lebih aman, adil, dan berpihak kepada perempuan, terutama mereka yang menjadi tulang punggung keluarga.
Tak hanya soal regulasi, Puan juga menilai edukasi finansial perlu ditingkatkan agar masyarakat memahami risiko di balik kemudahan pinjol.