INSIBERNEWS - Harapan akan tercapainya kesepakatan damai di Jalur Gaza kembali menemui jalan buntu. Pemerintah Israel dilaporkan menolak usulan terbaru dari Hamas yang menawarkan gencatan senjata selama lima tahun dengan imbalan pembebasan seluruh sandera Israel dalam satu kali pertukaran.
Informasi ini disampaikan oleh stasiun penyiaran Israel, Kan, pada Senin (28/4), mengutip sumber anonim yang terlibat dalam proses negosiasi.
Baca Juga: Solo Kejar Target 45 Dapur Gizi, Program Makan Gratis Dipercepat
Sehari sebelumnya, pada Minggu (27/4), delegasi Hamas menyerahkan sebuah konsep usulan kepada para mediator di Doha dan Kairo.
Dalam usulan itu, Hamas menawarkan penghentian konflik bersenjata di Jalur Gaza selama lima tahun penuh, dengan syarat Israel melepaskan semua tahanan Palestina dalam sebuah pertukaran besar.
Baca Juga: Mengintip Kisah Sukses UMKM Bali Nature yang Go Internasional Usai Terima Pemberdayaan BRI
Selain itu, Hamas juga menuntut penarikan penuh pasukan Israel dari seluruh wilayah Gaza serta pencabutan blokade yang selama ini memperburuk kondisi kemanusiaan di wilayah tersebut.
Namun, di sisi lain, Hamas menolak keras untuk membahas soal pelucutan senjata, sebuah isu yang selama ini menjadi salah satu syarat utama Israel dalam berbagai perundingan.
Baca Juga: Kabar Baik! PNS Kemdiktisaintek Bisa Ajukan Pengakuan Tugas Belajar Tanpa Ribet
Hamas juga mengusulkan pembentukan komite lokal yang bertugas memerintah Gaza, meski tidak memberikan detail lebih lanjut mengenai siapa saja yang akan terlibat dalam badan pemerintahan baru itu.
Israel, yang selama ini menganggap Hamas sebagai kelompok teroris, menilai usulan tersebut belum menjamin keamanan jangka panjang bagi warganya.
Baca Juga: Prabowo Tekankan Swasembada Pangan, Ajak Warga Tanam Cabai di Rumah
Ketegangan antara kedua belah pihak semakin meningkat sejak Israel kembali melancarkan serangan militernya di Jalur Gaza pada 18 Maret lalu.
Israel berdalih bahwa tindakan itu diambil setelah Hamas menolak menerima skema perpanjangan gencatan senjata yang dirancang oleh Amerika Serikat, menyusul berakhirnya jeda tempur pada 1 Maret.