INSIBERNEWS - Menteri Kebudayaan Fadli Zon mengusulkan pembangunan bioskop di Aceh, salah satu provinsi yang telah lama tidak memiliki fasilitas tersebut.
Dalam pernyataannya di Yogyakarta pada Jumat (17/1/2025), Fadli menilai bahwa ekosistem perfilman Indonesia saat ini tengah berkembang pesat.
Namun, wacana ini menuai berbagai respons, termasuk kritik dari sineas lokal yang menilai usulan tersebut tidak relevan dengan perkembangan zaman.
Aceh dan Tantangan Penerapan Bioskop
Aceh, yang dikenal dengan penerapan Syariat Islam, menghadapi sejumlah tantangan budaya dan hukum terkait pembangunan bioskop. Menurut Fadli Zon, adaptasi dan penyesuaian diperlukan agar fasilitas ini sesuai dengan norma setempat. Ia juga menyebutkan contoh dari negara-negara Timur Tengah seperti Arab Saudi dan Qatar, yang telah mengakomodasi bioskop meski menerapkan hukum Islam.
Namun, menurut sineas lokal seperti Davi Abdullah, pembangunan bioskop di Aceh justru tidak sesuai dengan tren modern. Ia berpendapat bahwa masyarakat kini lebih memilih layanan streaming digital dibandingkan bioskop konvensional.
“Bang Menteri sepertinya tidak mengikuti perkembangan zaman. Orang-orang lebih memilih layanan OTT (over the top) yang memungkinkan mereka menonton film di mana saja tanpa harus pergi ke bioskop,” ujar Davi.
Belajar dari Pengalaman Arab Saudi
Arab Saudi, yang selama lebih dari 35 tahun melarang bioskop, berhasil menghidupkan kembali fasilitas tersebut sebagai bagian dari reformasi Vision 2030. Langkah ini tidak hanya meningkatkan sektor hiburan tetapi juga menciptakan peluang ekonomi baru, seperti peningkatan lapangan kerja dan diversifikasi pendapatan negara.
Meski demikian, kesuksesan Arab Saudi juga ditopang oleh perubahan besar dalam regulasi sosial dan dukungan pemerintah terhadap industri hiburan.
Bioskop: Kebutuhan atau Kemunduran?
Penutupan bioskop di Aceh bermula sejak diberlakukannya darurat militer pada awal 2000-an, diikuti oleh bencana tsunami pada 2004 yang menghancurkan infrastruktur. Hingga saat ini, warga Aceh yang ingin menonton film di bioskop harus menempuh perjalanan panjang ke Medan, Sumatera Utara.
Namun, di era digital saat ini, konsep bioskop dianggap kurang relevan. Kehadiran platform streaming seperti Netflix dan Disney+ memberikan kemudahan akses ke berbagai konten film, tanpa batas geografis.
Kesimpulan
Pembangunan bioskop di Aceh memunculkan perdebatan antara kebutuhan akan modernisasi ekosistem perfilman dan relevansinya dengan budaya lokal serta perkembangan teknologi. Jika wacana ini serius dipertimbangkan, adaptasi terhadap norma Syariat Islam serta kajian mendalam mengenai kebiasaan konsumsi hiburan masyarakat Aceh menjadi kunci keberhasilannya.
Bagaimana pendapat Anda, apakah pembangunan bioskop di Aceh merupakan langkah maju atau justru melangkah mundur?
Artikel Terkait
Ingin Lihat Bagaimana Alam Semesta Akan Berakhir? Cek Prediksi Menarik Ini!
Mau Keliling Dunia Tanpa Tinggalkan Rumah? Coba Game Seru Ini untuk memuaskan rasa ingin tahu kamu!
Serunya Berkreasi di Draw a Stickman: Petualangan Dimulai dari Coretan buat kamu yang ingin menambah Kreativitasmu!
Ingin Eksperimen Musik Sendiri? Bikin Beat Keren Hanya Dengan Mengetik! Coba Type Drummer Sekarang!
9 Situs Seru yang Menggabungkan Belajar dan Bermain, Cocok Buat Semua Usia!
Pernah Penasaran Seberapa Besar Alam Semesta? Jelajahi Dari Atom hingga Galaksi! Tips untuk anak yang ingin belajar mengenai dunia
Wow! Jatiluwih dan Wukirsari Jadi Desa Wisata Terbaik Dunia 2024, Indonesia Bangga!
Bangga! 7 Tahun Berturut-turut! Indonesia Kembali Raih Predikat Negara Paling Dermawan
Pemerintah Jepang Tawarkan Rp504 Juta untuk Tinggal di Desa, Dapat Rumah Tradisional di Jepang, Begini Peluang Hidup Nyaman di Pedesaan Negeri Sakura
Donald Trump Ingin Selamatkan TikTok di Hari Pertama Menjabat: Perintah Eksekutif Jadi Kunci Kembalinya Aplikasi Favorit! Begini Rencananya!