Akibat Tambang Emas, 30 Orang Tewas Jadi Korban Baku Tembak Antarsuku di Papua Nugini

Photo Author
Cristina Jeany Malonda, Insibernews
- Selasa, 17 September 2024 | 13:42 WIB
Ilustrasi penembakan (Istimewa)
Ilustrasi penembakan (Istimewa)

INSIBERNEWS - Terjadi insiden baku tembak antara ratusan anggota suku di dataran tinggi Papua Nugini, dilaporkan oleh aparat kepolisian setempat sedikitnya ada 30 orang tewas, Senin (16/9/2024).

Insiden tersebut bermula saat para penambang ilegal membuat seorang pemilik tanah di Lembah Porgera mengalami cedera serius pada Agustus lalu.

Area tambang itu diketahui merupakan salah satu tambang emas terbesar di Papua Nugini.

Baca Juga: Sampai 14 Jam, Berikut 7 Fakta Peristiwa Macet Total di Puncak Saat Long Weekend

Menurut keterangan yang sampaikan oleh Komandan Polisi Joseph Tondop, sebelumya telah terdapat pertemuan damai, namun tidak membuahkan hasil.

Sehingga, situasi pun berkembang menjadi bentrok antarsuku, diperkirakan 300 letusan tembakan turut mewarnai aksi cekcok tersebut pada Minggu (15/9/2024).

Dalam laporannya pihak kepolisian menyebut setidaknya ada 30 anggota suku yang bentrok, tewas. Ratusan perempuan dan anak-anak terpaksa harus mengungsi dan sejumlah rumah terbakar habis.

Baca Juga: Sampai Pingsan! Ini Kronologi dan Profil Muhammad Rizki Saputra Pemain Sulteng yang Bogem Wasit di PON XXI Aceh-Sumut 2024

Tondop juga melaporkan, selain 30 orang tewas dari kelompok suku, terdapat pula dua pejabat ikut tewas saat menunggu tumpangan pulang setelah jam kerja.

Komisaris Polisi David Manning mengungkap pihaknya akan menggunakan kekuatan yang diperlukan untuk memulihkan ketertiban di wilayah dataran tinggi yang sulit dijangkau.

"Sederhananya, ini berarti jika Anda mengangkat senjata di tempat umum atau mengancam orang lain, Anda akan ditembak," ungkapnya, dikutip INSIBERNEWS Pada, Selasa (17/09/2024).

Baca Juga: Terungkap! Ini Sosok dan Motif Si Pembunuh Gadis Penjual Gorengan Nia Kurnia Sari

"Situasi yang memburuk ini disebabkan oleh penambang ilegal dan pemukim ilegal yang mengabaikan hak pemilik tanah tradisional serta meneror masyarakat setempat dengan kekerasan," ungkapnya.

Editor: Cristina Jeany Malonda

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel
di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizinĀ redaksi.

Tags

Artikel Terkait

Rekomendasi

Terkini

X