INSIBERNEWS - Duka mendalam tengah menyelimuti Kolombia setelah gempa bumi berkekuatan magnitudo 7,4 meluluhlantakkan sebagian besar wilayah negara tersebut.
Hingga Selasa malam waktu setempat, otoritas terkait mencatat setidaknya 213 nyawa terenggut akibat tertimpa reruntuhan bangunan, sementara lebih dari 2.700 orang lainnya masih dinyatakan hilang bak ditelan bumi dan memicu kepanikan luar biasa di tengah masyarakat yang kalut.
Situasi di lapangan kini berubah menjadi arena perlombaan melawan waktu demi menyelamatkan nyawa. Berdasarkan pantauan dan laporan terkini pada Rabu (12/8/2026), tim penyelamat gabungan yang terdiri dari regu SAR, aparat keamanan, hingga relawan warga terus berjibaku siang dan malam guna mencari tanda-tanda kehidupan di balik tumpukan puing beton yang hancur berantakan.
Salah satu titik paling kritis yang menyita perhatian publik adalah reruntuhan gedung megah Universitas Teknologi Choco yang berlokasi di Kota Quibdo.
Bangunan pusat pendidikan yang biasanya dipenuhi oleh senyum serta aktivitas akademis para mahasiswa tersebut kini rata dengan tanah, membuat banyak tenaga pengajar dan pelajar diyakini masih terperangkap tak berdaya di dalam bongkahan material yang kondisinya sangat labil.
Di tengah keterbatasan masuknya alat berat, proses evakuasi terpaksa dilakukan secara gotong royong dan serba manual dengan alat seadanya demi mencegah terjadinya longsoran susulan.
Kehati-hatian ekstra dari warga dan petugas ini akhirnya membuahkan hasil yang cukup melegakan, di mana mereka sukses mengevakuasi sedikitnya enam orang dari kawasan kampus tersebut dalam kondisi masih bernapas.
"Kami harus menyingkirkan bongkahan material ini dengan tangan kosong secara perlahan, karena getaran sekecil apa pun sangat berisiko meruntuhkan sisa beton dan menimpa mereka yang masih hidup di bawah sana," ungkap salah satu petugas SAR yang menceritakan betapa menegangkannya proses evakuasi di lapangan.
Bencana seismik berskala besar ini nyatanya tidak hanya melumpuhkan Kota Quibdo, tetapi juga membawa nestapa bagi jantung perekonomian agrikultur negara tersebut.
Beberapa kawasan yang selama ini tersohor di dunia sebagai pusat penghasil kopi premium Kolombia, seperti daerah Pereira, Cali, dan Manizales, turut luluh lantak diguncang guncangan hebat sehingga memutus akses jalan raya serta menghancurkan infrastruktur vital warga.
Kini, jutaan pasang mata rakyat Kolombia tertuju pada upaya penyelamatan yang terus berlangsung tanpa henti di berbagai wilayah yang terdampak. Bantuan logistik, tim medis, dan tambahan personel perlahan mulai dikerahkan dari penjuru negeri, membawa sepercik harapan bagi keluarga korban yang dengan setia serta derai air mata menanti kepastian kabar sanak saudara mereka di sekitar area pengungsian darurat.***
Artikel Terkait
Brigadir Imansyah Dipatsus Propam Polda Sumut Usai Winda Lorenza Gowasa Meninggal, Ini Alasannya
Kesal Jadi Korban Bully di Kantor, Pegawai Diskominfo Kukar Nekat Bakar Ruang Rapat
Harga Minyak Dunia Melonjak 6 persen, Iran Tahan Pembukaan Selat Hormuz
Siap-Siap! Pesta Rakyat HUT RI ke-81 Bakal Guncang Monas, Banjir Hiburan hingga Makanan Gratis
Tak Sampai 24 Jam! Polda Metro Jaya Ringkus Pembunuh Wanita Muda di Kontrakan Tangerang