81 Tahun Berlalu, Warga Nagasaki Kembali Ingatkan Ngerinya Dampak Senjata Nuklir bagi Kemanusiaan

Photo Author
- Senin, 10 Agustus 2026 | 08:21 WIB
Ilustrasi - Senjata Nuklir (Dok. DW)
Ilustrasi - Senjata Nuklir (Dok. DW)

INSIBERNEWS - Suasana hening seketika menyelimuti Kota Nagasaki, Jepang, tepat pada pukul 11.02 waktu setempat. Ratusan warga yang berkumpul pada Minggu (9/8/2026) itu tertunduk membisu, mengheningkan cipta mengenang detik-detik mengerikan saat bom atom plutonium berjuluk "Fat Man" dijatuhkan oleh Amerika Serikat pada 1945 silam.
 
Peringatan 81 tahun tragedi kelam ini kembali menjadi panggung untuk menyuarakan bahaya senjata pemusnah massal di tengah eskalasi geopolitik yang kian meresahkan.

Dalam momen pembacaan Deklarasi Perdamaian, Wali Kota Nagasaki, Shiro Suzuki, menyampaikan pesan yang sangat menggugah nurani. Ia dengan tegas menolak narasi kuno yang menyebut bahwa kepemilikan senjata nuklir bisa dibenarkan atas nama pertahanan dan keamanan suatu negara.

"Senjata nuklir bukanlah 'kejahatan yang diperlukan,' tetapi 'kejahatan absolut' dan tidak akan pernah bisa hidup berdampingan dengan kemanusiaan," lantang Suzuki mengingatkan para pemimpin dunia.
 

Kekhawatiran Suzuki sangat beralasan jika disandingkan dengan realitas hari ini. Ia secara terbuka menyoroti tingginya ketegangan di zona konflik seperti Timur Tengah dan perang Rusia-Ukraina yang secara tidak langsung menyeret negara-negara adidaya.
 
Apalagi, catatan global menunjukkan masih ada lebih dari 12.000 hulu ledak nuklir yang tersebar, seolah menjadi bom waktu yang siap meledak dan memusnahkan peradaban manusia kapan saja.

Di sisi lain, Perdana Menteri Jepang, Sanae Takaichi, memanfaatkan peringatan bersejarah ini untuk menegaskan kembali posisi negaranya.
 
Sang perdana menteri menjamin bahwa Jepang akan terus memegang erat tiga prinsip nonnuklir yang telah diwariskan turun-temurun, yakni larangan keras untuk memproduksi, memiliki, ataupun sekadar mengizinkan masuknya senjata mematikan tersebut ke wilayah kedaulatan mereka, sembari terus mendorong pendekatan realistis demi dunia yang bebas nuklir.
 

Ironisnya, di tengah lantangnya seruan perdamaian ini, internal Jepang justru tengah diwarnai perdebatan sengit mengenai kebijakan pertahanan mereka. Beberapa waktu lalu, Menteri Pertahanan Shinjiro Koizumi sempat melempar wacana bahwa Jepang perlu membuka ruang diskusi ulang terkait prinsip nonnuklirnya.
 
Langkah ini dipandang sebagai bentuk kewaspadaan baru, berkaca dari manuver sejumlah negara Eropa yang belakangan mulai memperkuat payung pertahanan nuklir mereka.

Sejarah peradaban memang mencatat dengan kepedihan betapa dahsyatnya dampak mematikan senjata tersebut. Tragedi pengeboman Hiroshima pada 6 Agustus 1945 telah merenggut sedikitnya 140.000 nyawa, yang kemudian disusul oleh hancurnya Nagasaki tiga hari berselang dengan tambahan 74.000 korban jiwa.
 
Rangkaian penderitaan tanpa akhir inilah yang akhirnya memaksa Jepang mengibarkan bendera putih pada 15 Agustus 1945, yang sekaligus menjadi penutup lembaran kelam Perang Dunia II.***
 

Editor: Varin Vaprilia Caroline

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel
di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Tags

Artikel Terkait

Rekomendasi

Terkini

X