INSIBERNEWS - Krisis geopolitik yang kian memanas di kawasan Timur Tengah rupanya membawa dampak berantai yang sangat masif bagi sektor energi global.
Di tengah gembar-gembor transisi menuju energi bersih, dunia kini justru diprediksi akan kembali melirik dan mengandalkan batu bara sebagai sumber utama pembangkit listrik.
Fenomena putar balik ini tentu menjadi sorotan tajam, mengingat komitmen banyak negara untuk menekan emisi karbon kini harus berbenturan keras dengan realitas kebutuhan energi domestik yang sangat mendesak.
Akar dari pergeseran arah kebijakan energi ini tidak terlepas dari eskalasi konflik bersenjata yang melibatkan Amerika Serikat, Israel, dan Iran. Ketegangan tingkat tinggi tersebut pada akhirnya berujung pada pemblokiran jalur perairan strategis di Selat Hormuz yang sudah berlangsung sejak Maret 2026 lalu.
Akibatnya, rantai pasokan energi dunia mengalami guncangan hebat yang tak terhindarkan, memaksa negara-negara importir untuk segera memutar otak mencari alternatif bahan bakar lain demi mengamankan pasokan listrik warganya.
Seperti yang telah banyak diketahui, Selat Hormuz merupakan urat nadi perdagangan energi internasional yang setiap harinya melayani lalu lintas sekitar 20 persen dari total ekspor gas alam cair atau LNG global.
Tertutupnya jalur vital ini otomatis membuat keran pasokan gas alam di pasar dunia menyusut amat tajam.
Sesuai prinsip ekonomi, kelangkaan pasokan ini langsung memicu ledakan harga gas alam hingga ke tingkat yang mencekik dan sangat membebani perbendaharaan negara-negara pembeli.
Menyikapi situasi pasar yang serba tidak pasti ini, Badan Energi Internasional (IEA) baru saja merilis proyeksi terbarunya yang menyoroti kebangkitan kembali tren penggunaan emas hitam.
Mengingat harga gas alam yang terlampau mahal dan semakin sulit dijangkau, banyak pemerintahan yang pada akhirnya memilih opsi paling logis dan instan, yakni menghidupkan kembali operasional Pembangkit Listrik Tenaga Uap (PLTU) berbasis batu bara yang sebenarnya mulai dipensiunkan.
"Produksi listrik dari batu bara secara global diperkirakan meningkat sebesar 1,4 persen pada 2026, setelah relatif stagnan pada 2025," tulis laporan resmi IEA yang dilansir oleh AFP pada Minggu (9/8/2026).
Laporan komprehensif tersebut juga menggarisbawahi bahwa lonjakan harga komoditas energi secara umum di sepanjang tahun 2026 menjadi katalis utama di balik kemunduran ini.
Terutama bagi negara-negara berkembang, pilihan untuk beralih kembali ke batu bara bukanlah sebuah kesengajaan untuk merusak iklim, melainkan murni langkah bertahan hidup. Mereka harus memastikan roda ekonomi tetap berputar kencang dan fasilitas publik tidak mengalami pemadaman massal di tengah bayang-bayang ketidakpastian.
Kondisi darurat kelistrikan ini sekaligus menjadi alarm peringatan bagi komunitas internasional mengenai betapa rentannya ketahanan energi dunia terhadap percikan isu geopolitik.
Jika konflik di Timur Tengah tidak segera diredam dan menemukan titik terang, ambisi umat manusia untuk mencapai target nol emisi karbon dipastikan akan semakin tertunda. Seluruh dunia kini tengah terjebak dalam dilema yang amat pelik, antara menjaga kelestarian bumi atau memastikan lampu di rumah warga tetap menyala di tengah gempuran harga gas.***
Artikel Terkait
Duel Panas Persija vs Persib Bakal Digelar di GBK, Catat Tanggal dan Jam Kick-off-nya!
Naik Transportasi Umum di Jakarta Cuma Rp1 Saat HUT RI ke-81, Ini Jadwal dan Ketentuannya
Iran Tetapkan Syarat Pembukaan Selat Hormuz, AS Diminta Hentikan Ancaman
Penipuan CPNS Bermodus Seleksi Susulan Rugikan Korban hingga Rp20 Miliar
Misteri Kematian Sutrimo, Polisi Bakal Bongkar Makam Pria yang Diklaim Karumga Eks Jampidsus