INSIBERNEWS - Harga minyak global mengalami lonjakan signifikan hingga sekitar 8 persen setelah Presiden Amerika Serikat, Donald Trump, mengumumkan rencana blokade di Selat Hormuz.
Ketegangan geopolitik di kawasan Timur Tengah ini langsung memicu kekhawatiran pasar energi dunia.
Berdasarkan data perdagangan terbaru, harga minyak mentah Brent crude oil sempat menyentuh level 102 dolar AS per barel. Kenaikan ini mencerminkan reaksi cepat pasar terhadap potensi gangguan pasokan minyak global, mengingat Selat Hormuz merupakan jalur vital distribusi energi dunia.
Baca Juga: Negosiasi Damai Berujung Buntu! Iran Disebut Tolak Tawaran Terakhir AS
Pada perdagangan Minggu malam (12/4) waktu GMT atau Senin pagi waktu Indonesia, kontrak berjangka Brent untuk pengiriman Juni tercatat naik sekitar 7,76 persen dibanding penutupan sebelumnya.
Sementara itu, minyak mentah West Texas Intermediate (WTI) untuk pengiriman Mei melonjak lebih tinggi, yakni sekitar 8,2 persen hingga mencapai 104,51 dolar AS per barel.
Lonjakan harga ini tidak lepas dari gagalnya pembicaraan antara Amerika Serikat dan Iran yang berlangsung di Islamabad, Pakistan. Sebelumnya, kedua negara sempat menyepakati gencatan senjata selama dua pekan sebagai upaya meredakan konflik.
Baca Juga: Wacana War Ticket Haji Dikritik, Cak Imin Ingatkan Nasib Jemaah Antrean
Namun, Wakil Presiden AS, J.D. Vance, yang memimpin delegasi negosiasi, mengumumkan bahwa perundingan tersebut berakhir tanpa kesepakatan. Delegasi AS pun kembali tanpa hasil, menandai memburuknya hubungan diplomatik kedua negara.
Menanggapi kegagalan tersebut, Presiden Trump langsung mengambil langkah tegas dengan mengumumkan rencana pemblokadean Selat Hormuz. Ia juga memerintahkan Angkatan Laut AS untuk memantau dan mencegat kapal-kapal yang melakukan transaksi dengan Iran untuk melintasi jalur tersebut.
Lebih lanjut, United States Central Command (CENTCOM) menyatakan kesiapan mereka untuk memulai blokade penuh terhadap lalu lintas maritim yang terkait dengan Iran. Operasi ini dijadwalkan dimulai pada Senin malam waktu Indonesia.
Baca Juga: WNA Italia Diduga Aniaya Warga Denpasar Gegara Kesal dengan Suara Orang Memasak
Ketegangan di Selat Hormuz berpotensi memicu krisis energi global. Jalur ini diketahui sebagai salah satu rute pengiriman minyak tersibuk di dunia, sehingga gangguan sekecil apa pun dapat berdampak besar terhadap harga dan stabilitas pasokan.
Para analis memperkirakan bahwa jika situasi ini terus bereskalasi, harga minyak bisa terus naik dan berimbas pada inflasi global, biaya logistik, serta harga bahan bakar di berbagai negara, termasuk Indonesia. ***
Artikel Terkait
Jokowi Respon Desakan Jusuf Kalla soal Ijazah, Tantang Pihak Penuduh Buktikan Klaimnya
Viral Dugaan Pemalakan Sopir Bajaj di Tanah Abang, Setoran Harian Capai Rp100 Ribu
Wacana War Ticket Haji Dikritik, Cak Imin Ingatkan Nasib Jemaah Antrean
Na Daehoon Buka Suara, Ungkap Anak-Anak Tak Pernah Menanyakan Jule Usai Bercerai
Iran Siaga di Selat Hormuz, Kapal Perang Asing yang Lewat Terancam Diserang
Negosiasi Damai Berujung Buntu! Iran Disebut Tolak Tawaran Terakhir AS