Berkolaborasi Bersama ANTAM Merawat Tanah, Wahyudin Berhasil Mengubah Wajah Kalongliud

Photo Author
Cristina Jeany Malonda, Insibernews
- Senin, 23 Februari 2026 | 15:01 WIB
Berkolaborasi Bersama ANTAM Merawat Tanah, Wahyudin Berhasil Mengubah Wajah Kalongliud (Istimewa)
Berkolaborasi Bersama ANTAM Merawat Tanah, Wahyudin Berhasil Mengubah Wajah Kalongliud (Istimewa)

INSIBERNEWS - Pemuda kelahiran 1988 dengan gelar sarjana akuntansi, bernama Wahyudin memilih memegang cangkul dan sepatu bot di kampung halamannya di Desa Kalongliud, Kecamatan Nanggung, Kabupaten Bogor.

Berawal dari kegelisahan dirinya yang bertahun-tahun menyaksikan desanya berada dalam bayang-bayang aktivitas Penambangan Emas Tanpa Izin (PETI). 

Himpitan ekonomi dan rusaknya infrastruktur irigasi akibat bencana pada 2020 membuat sebagian warga nekat mencari nafkah di lubang-lubang tambang, mempertaruhkan nyawa demi penghasilan yang tak menentu.

Baca Juga: Operasi Militer Tewaskan Bos Kartel El Mencho, Pecahkan Kerusuhan di Meksiko

“Kekhawatiran atas banyaknya lahan tidur dan terbatasnya lapangan pekerjaan menjadi penggerak saya untuk berkontribusi di Kalongliud. Saya khawatir, jika tidak ditangani segera, akan banyak masyarakat yang beralih menjadi PETI,” kata pria yang akrab disapa Kang Wahyu itu.

Bagi Kang Wahyu, jawaban atas krisis itu sesungguhnya berada tepat di bawah kaki mereka sendiri: tanah pertanian yang sempat ditinggalkan.

Pencegahan PETI tidak cukup hanya dengan penertiban. Masyarakat butuh alternatif ekonomi yang lebih aman dan layak,” tegas Wahyu.

Baca Juga: Video Kekerasan Terhadap Nizam Sudah Beredar, Ibu Tiri Bantah Kematian Nizam Bukan Karena Kekerasan Yang Ia Lakukan

Gayung bersambut pada 2022. Kegelisahannya sejalan dengan visi PT ANTAM Tbk UBPE Pongkor yang menghadirkan program inovasi sosial Garitan Kalongliud. Namun Wahyu tidak sekadar menjadi penerima manfaat. 

Ia memilih berdiri di garis depan, memimpin Kelompok Taruna Muda dan mengajak pemuda desa menghidupkan kembali 35 hektar lahan terlantar.

Tantangan di lapangan tak sederhana. Harga pupuk kimia melonjak, hama keong mas menyerang padi, dan pasokan air terbatas. Namun bagi Wahyu, masalah adalah ruang lahirnya inovasi. Berbekal pelatihan dari ANTAM, ia menginisiasi pembuatan Pupuk Organik Cair (POC) Beko, hasil fermentasi keong mas dan urin domba.

Baca Juga: ANTAM Upayakan Ketahanan Pangan dan Penguatan Ekonomi Desa Melalui Garitan Kalongliud

Langkah tersebut, ditambah pemanfaatan 25 ton limbah kotoran domba sebagai pupuk organik, berhasil memangkas biaya pupuk hingga 50 persen. Untuk menjawab krisis air, Wahyu bersama warga merakit sistem irigasi tetes sederhana yang mampu menghemat penggunaan air hingga 60 persen.

Perubahan tak berhenti pada budidaya. Wahyu juga mendobrak ketergantungan petani pada tengkulak. Kelompok Taruna Muda diposisikan sebagai fasilitator pasar, memangkas rantai distribusi dan menjual hasil panen langsung ke Pasar Induk Kemang dan Kramat Jati.

Halaman:

Editor: Cristina Jeany Malonda

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel
di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizinĀ redaksi.

Tags

Artikel Terkait

Rekomendasi

Terkini

X