INSIBERNEWS - Perdana Menteri Inggris Keir Starmer secara terbuka menuntut Presiden Amerika Serikat Donald Trump untuk meminta maaf atas pernyataannya yang dinilai meremehkan peran negara-negara sekutu dalam perang di Afghanistan.
Ucapan Trump tersebut memicu reaksi keras, khususnya dari negara-negara NATO yang terlibat langsung dalam konflik pasca-serangan 11 September 2001.
Baca Juga: Antisipasi Cuaca Ekstrem, BNPB Gencarkan Modifikasi Cuaca di Jakarta dan Jabar
Starmer menilai pernyataan Trump tidak hanya keliru, tetapi juga menyakiti perasaan banyak pihak, terutama keluarga prajurit sekutu yang gugur atau terluka dalam operasi militer di Afghanistan. Ia menegaskan bahwa kontribusi negara-negara NATO, termasuk Inggris, merupakan bagian penting dari respons kolektif terhadap terorisme global.
“Saya menganggap pernyataan Presiden Trump itu menghina dan, terus terang, mengerikan. Saya sama sekali tidak heran jika ucapan tersebut menimbulkan luka mendalam bagi keluarga mereka yang kehilangan orang tercinta atau mengalami cedera,” kata Starmer kepada wartawan.
Baca Juga: Tesla Pangkas Fitur Autopilot Standar, Arahkan Konsumen ke Full Self-Driving
Ia mengingatkan bahwa pada 2001, Amerika Serikat secara resmi mengaktifkan Pasal 5 NATO untuk pertama kalinya dalam sejarah aliansi tersebut. Pasal itu mewajibkan seluruh negara anggota memberikan dukungan, yang kemudian diwujudkan dalam keterlibatan militer di Afghanistan selama bertahun-tahun.
Ketika ditanya apakah dirinya mengharapkan permintaan maaf langsung dari Trump, Starmer menjawab dengan nada tegas namun reflektif. Menurutnya, tanggung jawab moral seorang pemimpin adalah mengakui kesalahan jika ucapannya melukai pihak lain.
“Kalau saya yang mengucapkan kata-kata seperti itu dan ternyata salah, saya pasti akan meminta maaf,” ujar Starmer.
Pernyataan Trump sebelumnya kembali mengulang kritik lama terhadap negara-negara Eropa anggota NATO. Ia menuding sekutu-sekutunya tidak sepenuhnya memenuhi komitmen pertahanan dan terlalu bergantung pada Amerika Serikat.
Dalam wawancara dengan Fox News di sela Forum Ekonomi Dunia di Davos, Swiss, Kamis lalu, Trump menyebut bahwa Amerika Serikat “sebenarnya tidak pernah benar-benar membutuhkan bantuan” dan mengklaim negara-negara NATO “sedikit mundur dari garis depan” selama konflik.
Pernyataan tersebut menuai kecaman luas karena dianggap mengabaikan fakta sejarah. Ribuan tentara dari Inggris, Kanada, Jerman, Prancis, dan negara NATO lainnya tercatat terlibat aktif di Afghanistan, dengan korban jiwa dan biaya politik yang tidak kecil.
Artikel Terkait
Bencana Longsor Terjang Pasirlangu Cisarua, 8 Orang Meninggal Dunia dan Puluhan Rumah Tertimbun
Dinar Candy Ingatkan Anak Muda Jauhi Podgeter Tak Lama Setelah Lula Lahfah Tutup Usia
Terkait Kabar Bergabungnya RI, Menlu Ungkap Dewan Perdamaian Dunia Tak Akan Gantikan PBB
82 Orang Hilang, Begini Kesaksian Korban Selamat Longsor Cisarua yang Dengar Dentuman Keras Sebelum Tanah Runtuh
DPR Angkat Suara soal Dugaan Bisnis Sawit PT Sinarmas di Aceh, Komisi IV Janji Turun Cek Temuan Jatam
Bawa Pulang Sejumlah Kesepakatan Strategis, Prabowo Tuntaskan Lawatan ke Tiga Negara
Tak Ingin Warga Lama di Pengungsian, Dedi Mulyadi Beri Bantuan Kontrak Rp10 Juta bagi Korban Longsor Burangrang
Pramono Anung Bidik BTS Tampil di JIS Akhir 2026, Jakarta Siap Jadi Tuan Rumah Konser Dunia
Tesla Pangkas Fitur Autopilot Standar, Arahkan Konsumen ke Full Self-Driving
Antisipasi Cuaca Ekstrem, BNPB Gencarkan Modifikasi Cuaca di Jakarta dan Jabar