MUI Sesalkan Penampilan Biduan di Acara Peresmian Masjid: 'Masjid Bukan Tempat Hiburan'

Photo Author
Adi Sutiyawan, Insibernews
- Senin, 27 Oktober 2025 | 15:35 WIB
Peresmian Masjid Darul Falah tuai Kecaman dari MUI (Foto : X/PS)
Peresmian Masjid Darul Falah tuai Kecaman dari MUI (Foto : X/PS)

INSIBERNEWS - Majelis Ulama Indonesia (MUI) mengungkapkan keprihatinan mendalam terkait insiden penampilan seorang biduan dalam acara peresmian Masjid Darul Falah di Desa Senden Jambon, Kecamatan Gemawang, Kabupaten Temanggung, Jawa Tengah, pada Rabu (22/10/2025).

Ketua Pusat Dakwah dan Perbaikan Akhlak Bangsa (PD PAB) MUI, KH Masyhuril Khamis, menilai bahwa tindakan tersebut telah melukai kesucian rumah ibadah dan menunjukkan kurangnya pemahaman terhadap adab serta nilai-nilai sakral dalam Islam.

Baca Juga: Dua Pesawat Militer AS Jatuh di Laut China Selatan, Tak Ada Korban Jiwa Dilaporkan

Menurutnya, masjid bukan sekadar bangunan untuk berkumpul, melainkan tempat yang memiliki kehormatan tinggi di sisi Allah. Karena itu, segala kegiatan yang dilakukan di dalamnya seharusnya membawa suasana khidmat, ketenangan, dan penghormatan terhadap nilai-nilai spiritual.

“Masjid itu rumah Allah, tempat beribadah dan mendekatkan diri kepada-Nya. Tidak sepatutnya dijadikan ajang hiburan yang mengandung unsur maksiat atau melalaikan,” ujar Kiai Masyhuril dengan nada menyesal.

Ia juga menegaskan bahwa masyarakat dan para panitia kegiatan keagamaan harus lebih berhati-hati dalam merancang acara di lingkungan masjid. Unsur hiburan boleh saja ada, tetapi harus tetap dalam koridor yang sesuai dengan syariat dan adab Islam.

Baca Juga: Love Scam Kian Menggila! Ribuan WNI Terjebak Jaringan Penipuan Siber Internasional

“Kalau mau menghibur masyarakat, caranya harus benar. Jangan sampai menghapus nilai kesakralan tempat ibadah. Ada banyak bentuk hiburan yang tetap bernilai positif tanpa menimbulkan kontroversi,” imbuhnya.

Lebih jauh, Masyhuril berharap kejadian di Temanggung itu tidak dilakukan dengan unsur kesengajaan. Namun, apabila terbukti disengaja, maka hal tersebut bisa dikategorikan sebagai bentuk ketidakhormatan terhadap nilai-nilai agama dan bisa menimbulkan keresahan di masyarakat.

Baca Juga: Turnamen Baru di Asia Tenggara, 3 Prinsip FIFA Bikin ASEAN Cup

Ia pun meminta para tokoh agama, pemerintah daerah, dan masyarakat sekitar agar lebih aktif mengedukasi dan mengawasi kegiatan keagamaan di lingkungan masing-masing, supaya peristiwa serupa tidak terulang di masa depan.

“Masjid adalah simbol kesucian dan ketenteraman umat. Jangan sampai fungsinya tercoreng hanya karena ketidaktahuan atau kelalaian penyelenggara. Ini pelajaran berharga bagi semua pihak,” tutupnya. ***

Editor: Adi Sutiyawan

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel
di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizinĀ redaksi.

Tags

Artikel Terkait

Rekomendasi

Terkini

X