Bikin Heboh! Karakter Film Merah Putih One For All Diduga Hasil Jiplak

Photo Author
Cristina Jeany Malonda, Insibernews
- Minggu, 10 Agustus 2025 | 16:10 WIB
Film animasi Merah Putih One For All diterpa tudingan jiplak aset. (Cinema21)
Film animasi Merah Putih One For All diterpa tudingan jiplak aset. (Cinema21)

INSIBERNEWS — Sutradara dan tim kreatif Merah Putih One For All tengah menjadi sorotan publik setelah film animasi garapan mereka menuai kritik tajam di media sosial.

Proyek yang sebelumnya dipromosikan sebagai karya kebanggaan anak bangsa ini kini dihadapkan pada tudingan serius soal keaslian karakter yang digunakan.

Gelombang kritik pertama muncul ketika warganet menyoroti kualitas visual film yang dianggap kurang memuaskan untuk ukuran produksi layar lebar.

Baca Juga: Berkat Rumah BUMN Binaan BRI, Nasib UMKM Ini Berubah Jadi Go Digital dan Raih Omset Menggiurkan

Namun, isu tersebut berkembang menjadi lebih serius setelah sejumlah pengguna media sosial mengungkap bahwa karakter dalam film tersebut diduga berasal dari aset digital yang dijual bebas di situs penyedia layanan animasi.

Pengguna Facebook dengan nama akun Froos***** menjadi salah satu yang memicu perbincangan. Dalam unggahannya.

Ia membagikan tangkapan layar karakter yang ada di film tersebut dan membandingkannya dengan aset yang tersedia di platform Reallusion.

Baca Juga: Ibunda Mendiang Uje, Umi Tatu, Jalani Pemeriksaan di Polres Terkait Kasus Dugaan Penipuan Travel Umrah

Menurutnya, desain karakter dalam film ini terlalu mirip, bahkan terlihat hanya mengalami sedikit modifikasi.

"Masih terkait Merah Putih - One for All, ternyata mereka banyak yang ngambil (modif) model dari Reallusion," tulis Froos dalam postingannya yang diunggah Minggu (10/8/2025).

Ia juga mempertanyakan alasan tim produksi menggunakan aset pihak ketiga untuk karakter penting dalam film yang diputar di layar lebar.

Baca Juga: Lewat Karakter Manda, Asha Assuncao Lawan Stigma Pernikahan

"Bruh, untuk animasi yang tayang di layar lebar, jadiin aset orang buat karakter penting itu kek gimana gitu," lanjutnya.

Unggahan tersebut dengan cepat menyebar luas di berbagai platform media sosial. Ratusan komentar bermunculan, sebagian besar bernada kecewa.

Banyak yang mempertanyakan komitmen tim produksi dalam menghadirkan karya orisinal, terlebih film ini membawa tema nasionalisme dan akan diputar serentak di bioskop seluruh Indonesia mulai 14 Agustus 2025.

Baca Juga: Usai Kalah dari El Rumi, Jefri Nichol Akui Tak Paham Boxing dan Pilih Pindah ke MMA

Film Merah Putih One For All sendiri mengangkat kisah berlatar desa kecil yang tengah bersiap merayakan Hari Kemerdekaan Indonesia.

Tiga hari sebelum upacara, bendera pusaka Merah Putih yang seharusnya dikibarkan di alun-alun desa mendadak hilang. Kejadian ini membuat warga panik dan memicu misi pencarian besar-besaran.

Dalam cerita, delapan anak dari latar belakang budaya berbeda dipilih untuk membentuk “Tim Merah Putih”.

Baca Juga: Bupati Indramayu Lucky Hakim Lepas Ribuan Ular untuk Lawan Hama Tikus, Apakah Ini Solusi Tepat?

Mereka berasal dari Betawi, Papua, Medan, Tegal, Jawa Tengah, Makassar, Manado, dan komunitas Tionghoa. Keberagaman ini menjadi simbol persatuan dalam menghadapi tantangan bersama.

Perjalanan Tim Merah Putih tidak mudah. Mereka harus melewati berbagai rintangan dan mengesampingkan perbedaan demi menyelamatkan bendera kebanggaan.

Kisah persahabatan, pengorbanan, dan cinta tanah air menjadi inti dari narasi yang diangkat.

Baca Juga: Geger! El Rumi Kalahkan Jefri Nichol Kurang dari 1 Menit di Ring Tinju!

Sayangnya, nilai moral yang ingin disampaikan film ini kini tertutupi oleh kontroversi.

Banyak pengamat animasi menilai, meskipun penggunaan aset siap pakai tidak sepenuhnya ilegal, hal tersebut bisa menurunkan nilai artistik dan orisinalitas karya, apalagi jika tidak diolah secara signifikan.

Hingga berita ini diturunkan, pihak rumah produksi belum memberikan klarifikasi resmi terkait tudingan penjiplakan aset karakter tersebut.

Baca Juga: Arbani Yasiz dan Raissa Ramadhani Resmi Menikah Setelah 4 Tahun Pacaran

Publik masih menunggu penjelasan, sementara perdebatan di jagat maya terus berlangsung.

Jika tidak segera direspons, kasus ini dikhawatirkan akan memengaruhi antusiasme penonton terhadap film yang awalnya diharapkan menjadi kebanggaan perfilman animasi Indonesia.

Editor: Cristina Jeany Malonda

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel
di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizinĀ redaksi.

Tags

Artikel Terkait

Rekomendasi

Terkini

X