Adi mengatakan, saat ini Indonesia dalam proses membangun interkoneksi selaras dengan upaya menggenjot pembangunan pembangkit listrik berbasis energi baru terbarukan (EBT) Net Zero Emission (NZE) atau nol karbon.
"Bertahap dan memang sekarang ini pembangunan arahnya pembangkit itu berbasis renewable yang semuanya itu pasti memerlukan potensi alam sekitar. Kebetulan Kalbar itu potensi airnya lokasinya jauh jadi kita menunggu transmisi," ujarnya.
"Kalau impor kan biasa, karena memang kerja sama antara Malaysia dan Indonesia dan itu nanti ada peraturannya, ketentuannya harus ditempuh. Nanti kapan-kapan kita juga yang nanti ekspor ke mereka, kita lagi transmisi," jelas dia.
Pertanyaannya adalah kapan Indonesia maju dengan cara berpikir para pemimpin seperti ini? Baiknya, coba lepaskan dulu kepentingan politik untuk hamburkan APBN dan berhenti sejenak untuk memikirkan nasib masyarakat kecil dan menengah!
Baca Juga: Biadab! Seorang Ayah Tega Bunuh Anak Kandung di Serang Banten
Kesimpulan yang bisa kita tarik dari pernyataan sang Direktur adalah:
1. Indonesia sadar kalau potensi sumber daya listrik di Indonesia sangat besar.
2. Indonesia lebih suka mengeluarkan anggaran untuk impor listrik daripada membuat interkoneksi yang menghubungkan listrik diberbagai wilayah yang membutuhkan.
3. Kebijakan yang tidak menetap akibat setiap pemimpin memiliki tujuan politik masing-masing.