INSIBERNEWS - Materi stand-up comedy Pandji Pragiwaksono kembali menjadi perbincangan publik. Kali ini, sorotan muncul setelah komika tersebut menyinggung penampilan fisik Wakil Presiden Gibran Rakabuming Raka dalam pertunjukan bertajuk Mens Rea yang tayang di sebuah platform streaming.
Dalam salah satu segmen, Pandji melontarkan candaan bahwa Gibran terlihat seperti orang mengantuk. Lelucon tersebut memicu beragam respons, termasuk dari musisi sekaligus dokter bedah plastik, Tompi, yang dikenal sebagai salah satu pendukung Gibran pada Pilpres 2024.
Tompi menegaskan bahwa dirinya tidak memiliki persoalan pribadi dengan Pandji. Ia bahkan mengungkapkan kedekatan mereka sebagai rekan diskusi dan sahabat yang sudah lama saling mengenal, termasuk dalam berbagai obrolan seputar isu politik.
“Saya klarifikasi dulu bahwa saya dan Pandji itu berteman. Walaupun dalam beberapa urusan politik kita tidak selalu satu jalur, tapi kita tetap temenan. Saya baik-baik saja sama dia dan tidak punya urusan pribadi,”ujar Tompi.
Setelah menyaksikan pertunjukan stand-up comedy berdurasi lebih dari dua jam tersebut, Tompi mengaku sebagian besar materi yang dibawakan Pandji justru sejalan dengan pandangannya. Ia menilai kritik Pandji terhadap kondisi politik nasional disampaikan dengan cerdas dan mewakili kegelisahan banyak orang.
“Hampir semuanya saya setuju. Kegelisahannya itu juga kegelisahan kita semua, dan dia berhasil menyampaikannya dengan baik,” kata Tompi.
Meski demikian, Tompi menyayangkan satu bagian materi yang dinilainya kurang tepat. Menurutnya, kritik terhadap tokoh publik, khususnya pejabat negara, seharusnya diarahkan pada kebijakan, kinerja, atau keputusan politik, bukan pada kondisi fisik seseorang.
Sebagai dokter bedah plastik, Tompi juga memberikan penjelasan dari sisi medis. Ia menyebut tampilan mata Gibran yang kerap dianggap mengantuk merupakan kondisi anatomis bawaan yang dikenal dalam dunia kedokteran sebagai ptosis, dan bukan sesuatu yang layak dijadikan bahan ejekan.
Pandangan Tompi ini menambah perspektif dalam diskusi publik mengenai batas antara kritik, satire, dan etika dalam menyampaikan pendapat, terutama di ruang seni seperti stand-up comedy yang sering bersinggungan dengan isu politik.
Perdebatan ini sekaligus memperlihatkan bahwa kebebasan berekspresi tetap memerlukan kepekaan, agar pesan kritik yang ingin disampaikan tidak bergeser menjadi serangan personal yang justru mengaburkan substansi persoalan.***