INSIBERNEWS - Nama Taylor Swift kembali jadi bahan perbincangan hangat di dunia maya. Kali ini, bukan karena lagu barunya yang mendominasi tangga lagu, melainkan karena cara promosi album terbarunya yang dianggap “kurang manusiawi” oleh para penggemarnya sendiri.
Dalam beberapa pekan terakhir, para Swifties—sebutan untuk fans Taylor Swift—ramai memenuhi lini masa media sosial dengan tagar protes dan komentar kecewa.
Mereka menyoroti penggunaan teknologi kecerdasan buatan (AI) dalam video promosi album “The Life of a Showgirl” yang baru saja diluncurkan penyanyi berusia 35 tahun itu.
Baca Juga: Ratusan Pelajar Sambut Hangat Kedatangan Presiden Afrika Selatan Ramaphosa di Indonesia
Kontroversi ini pertama kali mencuat setelah laporan dari beberapa media internasional seperti Futurism, Wired, dan Rolling Stone pada Rabu (8/10).
Dalam laporan tersebut disebutkan bahwa Taylor meluncurkan kampanye interaktif yang mengajak penggemar mencari “pintu jingga” di 12 kota besar dunia, termasuk Nashville, London, dan Barcelona.
Setiap penggemar yang menemukan pintu berwarna jingga itu dapat memindai kode QR yang menampilkan video pendek misterius berisi potongan visual dan cuplikan lagu dari album barunya. Konsepnya awalnya dianggap menarik dan unik—gabungan antara permainan digital dan pengalaman musik langsung.
Baca Juga: Heboh! Isu Perceraian Raisa dengan Hamish Daud Kembali Mencuat, Rumah Tangga Retak?
Namun, semangat antusias itu tak bertahan lama. Setelah video-video tersebut muncul di media sosial, banyak penggemar justru merasa kecewa dengan hasil visualnya.
Mereka menilai video-video itu tampak “kering”, “kurang ekspresif”, dan “terlalu komputerisasi”. Dugaan bahwa seluruh materi visual dibuat menggunakan AI pun mulai mencuat.
“Taylor punya sumber daya besar, masa promosi album sekelas dia cuma pakai video AI kayak gini?” tulis salah satu penggemar di X (Twitter).
Banyak penggemar lainnya juga mengeluhkan bahwa hasil visual yang dihasilkan AI membuat karya tersebut kehilangan sentuhan pribadi yang biasanya menjadi ciri khas Taylor.
Sebagian fans juga menyoroti ironi di balik situasi ini. Pasalnya, Taylor Swift sendiri dikenal cukup vokal menentang penggunaan teknologi AI untuk memanipulasi karya seniman. Tahun lalu, dia bahkan sempat mengecam keras tren “AI deepfake” yang menggunakan wajah dan suaranya tanpa izin untuk konten palsu.