“Di podcast juga sama, aku bercerita bersama tamu. Pembahasannya jadi terasa lebih nyaman karena berbasis cerita,” jelasnya.
Penulis buku Timun Jelita (2025) itu menambahkan, suasana podcast sengaja dibuat seperti obrolan santai agar penonton merasa dekat dan betah mendengarkan.
“Kita cukup bercerita. Fokusnya bagaimana supaya orang nyaman mendengar,” tuturnya.
Terapkan Skill, Sisanya Terus Belajar
Dari perjalanan kariernya, Raditya Dika menilai bahwa memiliki tujuan yang jelas sama pentingnya dengan konsistensi belajar. Ia menyadari bahwa setiap medium memiliki tantangan tersendiri yang perlu dievaluasi secara berkala.
“Aku cuma menerapkan skill storytelling itu ke berbagai platform. Selebihnya ya belajar,” katanya.
Menurut sutradara film Koala Kumal (2016) tersebut, proses evaluasi dan perbaikan adalah kunci agar kualitas karya terus meningkat.
“Pasti ada kekurangan. Kalau kurang, evaluasi lagi. Dari situ kita terus berkembang,” pungkas Raditya Dika.
Artikel Terkait
Tanpa Sentuhan, Viral Polisi di Kediri Beri Terapi Energi Alam Gratis
Perkuat Layanan Kesehatan, 66 RSUD Bakal Naik Kelas, Pelayanan di Daerah Terpencil akan Lebih Lengkap
Pesulap Merah Klarifikasi Isu Poligami Usai Kepergian Istri Pertama, Akui Ratu Rizky Nabila Adalah Istri Keduanya
Kasus Impor Barang KW Terbongkar, KPK Duga Pejabat Bea Cukai Terima Rp7 Miliar per Bulan
Layanan Kesehatan Naik Kelas, 80 Persen Penyakit Bisa Ditangani RSUD di Daerah