INSIBERNEWS — Barmastya Bhumi Brawijaya, putra sutradara ternama Hanung Bramantyo, mulai menunjukkan kiprahnya di dunia perfilman dengan cara yang berbeda.
Tidak sekadar membuat film, Bhumi menghadirkan karya visual berbasis kecerdasan buatan (AI) bersama rekannya, Aldy Daffa, yang kemudian dipamerkan sang ayah pada Senin (18/8).
Karya tersebut menjadi sorotan karena memvisualisasikan salah satu drama sejarah terpenting bagi bangsa Indonesia, yakni peristiwa sekitar proklamasi kemerdekaan.
Baca Juga: Roblox Gaet Lady Gaga sebagai Juri Tamu Pertama dalam ‘Dress To Impress’
Mulai dari bom Hiroshima dan Nagasaki yang menjadi latar global, hingga peristiwa Rengasdengklok yang sangat berpengaruh terhadap lahirnya naskah proklamasi, semua dihadirkan dalam bentuk visual yang dramatis.
Hanung Bramantyo, sutradara yang dikenal lewat film-film sejarah seperti Sang Pencerah dan Kartini, turut memberikan sentuhan profesionalnya dalam proyek ini.
Ia terlibat sebagai penulis naskah sekaligus produser, memastikan alur sejarah yang divisualisasikan tetap akurat dan sarat makna.
Baca Juga: Dokter Richard Lee Sebut Laporan Doktif Soal Izin Edar Produknya di Polda Metro Jaya Tak Pantas Jadi Laporan
Kehadiran Hanung dalam proyek ini juga memberi validasi artistik bagi karya putranya.
Di sisi lain, Bhumi mengambil peran penting sebagai AI Visual Prompt Engineer. Tugasnya tidak sekadar mengoperasikan teknologi, melainkan juga merancang arahan visual yang mampu mewujudkan narasi sejarah menjadi gambar-gambar yang hidup.
Kolaborasi antara Bhumi dan Aldy Daffa ini menunjukkan bagaimana generasi muda bisa memanfaatkan teknologi AI untuk tujuan edukasi sekaligus kreatif.
Baca Juga: IPL Apartemen Naik 54 Persen Tanpa Komunikasi, Didi Riyadi Geram!
Respons publik terhadap karya ini terbilang positif. Banyak warganet memuji upaya Bhumi sebagai contoh penggunaan AI yang tepat, bukan hanya untuk hiburan, tetapi juga untuk melestarikan nilai-nilai sejarah.
Bahkan, karya ini dianggap sebagai terobosan baru dalam dunia seni visual yang mampu mempertemukan teknologi modern dengan pelajaran sejarah bangsa.
Sebagian pengamat juga membandingkan karya Bhumi dengan film layar lebar Merah Putih: One for All yang belakangan ini tayang di bioskop.
Baca Juga: Maia Estianty Jadi Duta Cacar Api, Ungkap Rahasia Menua dengan Sehat dan Bahagia
Jika film tersebut menyajikan narasi perjuangan kemerdekaan melalui medium konvensional, karya Bhumi menawarkan perspektif segar dengan pendekatan visual AI yang lebih eksperimental.
Perbandingan ini semakin memperkuat posisi Bhumi sebagai generasi baru perfilman yang berani bereksperimen.
Dengan keterlibatan Hanung sebagai mentor sekaligus kolaborator, langkah Bhumi Brawijaya di dunia perfilman tampaknya baru dimulai.
Baca Juga: Lisa BLACKPINK Bikin Heboh London, Tampil Stylish dengan Outfit Pink dan Boneka Labubu
Proyek visual AI bertema sejarah ini tidak hanya menjadi ajang pembuktian diri.
Tetapi juga membuka peluang bagi generasi muda untuk terus menggali potensi teknologi dalam menyampaikan cerita-cerita penting tentang bangsa.
Artikel Terkait
Raih 4,3 Juta Penonton, My Daughter Is A Zombie Puncaki Box Office Korea Selatan
Lisa BLACKPINK Bikin Heboh London, Tampil Stylish dengan Outfit Pink dan Boneka Labubu
Maia Estianty Jadi Duta Cacar Api, Ungkap Rahasia Menua dengan Sehat dan Bahagia
IPL Apartemen Naik 54 Persen Tanpa Komunikasi, Didi Riyadi Geram!
Dokter Richard Lee Sebut Laporan Doktif Soal Izin Edar Produknya di Polda Metro Jaya Tak Pantas Jadi Laporan
Roblox Gaet Lady Gaga sebagai Juri Tamu Pertama dalam ‘Dress To Impress’