Ramai Dibicarakan, Film Animasi ‘Merah Putih: One For All’ Tuai Kritik Soal Kualitas

Photo Author
- Senin, 11 Agustus 2025 | 15:02 WIB
Film animasi Merah Putih One For All diterpa tudingan jiplak aset. (Cinema21)
Film animasi Merah Putih One For All diterpa tudingan jiplak aset. (Cinema21)

INSIBERNEWS - Film animasi lokal ‘Merah Putih: One For All’ belakangan ini jadi bahan perbincangan hangat di media sosial.

Bukan karena kisahnya yang membosankan, melainkan kualitas animasinya yang dianggap kurang memuaskan oleh banyak penonton. Bahkan, kritik tajam datang silih berganti, membuat film ini viral sebelum resmi tayang di layar lebar.

Baca Juga: Bikin Heboh! Karakter Film Merah Putih One For All Diduga Hasil Jiplak

Karya sutradara Endiarto ini sebenarnya mengusung tema yang dekat dengan semangat kemerdekaan. Ceritanya berpusat pada misi mencari bendera merah putih yang tiba-tiba hilang tiga hari sebelum peringatan HUT Republik Indonesia pada 17 Agustus.

Hilangnya bendera ini memicu delapan anak dari latar belakang budaya berbeda untuk bersatu demi menemukan simbol kebanggaan bangsa tersebut.

Baca Juga: Ini dia! Lomba 17-an yang Nggak Lekang oleh Waktu, Selalu Bikin Meriah Tiap Agustusan, Apa Saja?

Dalam perjalanan mereka, anak-anak itu harus menghadapi berbagai rintangan. Mulai dari perbedaan karakter, tantangan alam, hingga hambatan yang menguji keberanian dan kerja sama mereka. Konsepnya terbilang menarik karena ingin menyampaikan pesan tentang persatuan, gotong royong, dan rasa cinta tanah air.

Namun, perhatian publik justru tertuju pada teknis animasinya. Banyak warganet menilai kualitas visualnya tidak sebanding dengan biaya produksinya yang mencapai Rp6,7 miliar.

Kritik semakin ramai setelah muncul dugaan bahwa beberapa karakter dan aset 3D yang digunakan berasal dari model siap pakai yang dijual bebas di internet dengan harga sekitar $43,5 atau setara Rp702 ribu per model.

Baca Juga: MAKI Sebut Dugaan Korupsi Kuota Haji Rugikan Negara Rp691 Miliar, Dorong KPK Gunakan Pasal TPPU

Dilansir dari unggahan Instagram sang produser, Toto Soegriwo, pengerjaan film ini dilakukan dalam waktu yang cukup singkat. Proses produksi intensif baru dimulai pada Juni 2025 dan dijadwalkan rilis di bioskop pada 14 Agustus 2025, hanya berselang dua bulan. Meski begitu, Endiarto menyebut persiapan proyek ini sebenarnya sudah berjalan sejak setahun sebelumnya.

Toto juga menegaskan bahwa pengerjaan film dilakukan dengan sumber daya lokal, melibatkan sejumlah animator dan kru dari berbagai daerah di Indonesia.

Ia berharap publik dapat melihat sisi positif dari karya ini, yakni keberanian untuk menghadirkan animasi dengan tema nasionalisme yang diproduksi sepenuhnya di dalam negeri.

Baca Juga: CPNS Muda di Banda Aceh Ditemukan Tewas di Kamar Kos, Rekan dan Tetangga Kaget

Halaman:

Editor: Varin Vaprilia Caroline

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel
di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Tags

Artikel Terkait

Rekomendasi

Terkini

X