INSIBERNEWS - Peringatan Hari Asyura atau 10 Muharram berbeda-beda di setiap tempat. Salah satu makanan yang khas dalam peringatan asyura ini adalah bubur asyura.
Hidangan bubur asyura memang telah menjadi tradisi yang melekat bagi umat Muslim di beberapa daerah Indonesia dan berbagau belahan dunia lainnya.
Mengutip dari berbagai sumber, bubur asyura merupakan makanan yang dibuat dari campuran biji-bijian, berbagai rempah, sayur, ikan, dan daging. Pembuatan bubur ini biasanya dilakukan secara gotong royong bersama tetangga-tetangga sekitar.
Baca Juga: Hindari! 5 Kebiasaan Ini Bikin Kamu Cepet Tua Lho!
Tradisi membuat bubur asyura pada tanggal 10 Muharram telah ada sejak zaman Nabi. Berikut sejarah dan filosofi bubur asyura.
Sejarah Bubur Asyura
Bubur asyura berawal dari selamatnya Nabi Nuh AS dari banjir bandang yang melanda pada bulan Muharram. Saat itu Allah SWT menolong Nabi Nuh dan selamat beserta kaumnya.
Selama berminggu-minggu terombang-ambing di tengah banjir, kapal Nabi Nuh akhirnya berlabuh di sebuah bukit bernama bukit Judi pada tanggal 10 Muharram.
Nabi Nuh kemudian memerintahkan kaumnya agar mengumpulkan sisa buah makanan yang masih ada, yaitu gandum, adas (sejenis kacang-kacangan atau kedelai hitam), kacang tanah, dan kacang putih.
Semua bahan tersebut dikumpulkan dalam tujuh takaran besar lalu dimasak dan dimakan bersama-sama.
Baca Juga: Crispy banget! Cobain Resep Simple Udang Keju
Filosofi Bubur Asyura
Bubur asyura ternyata memiliki kandungan filosofis yang mendalam. Mengutip dari berbagai sumber bubur asyura melambangkan rasa syukur manusia atas nikmat dan keselamatan yang diberikan Allah SWT selama ini.