religi-budaya

Mengenal Sejarah Bubur Asyura dan Filosofinya, Makanan yang Ada di Perayaan 10 Muharram

Selasa, 16 Juli 2024 | 11:25 WIB
Ilustrasi bubur asyura (Istimewa)

INSIBERNEWS - Peringatan Hari Asyura atau 10 Muharram berbeda-beda di setiap tempat. Salah satu makanan yang khas dalam peringatan asyura ini adalah bubur asyura.

Hidangan bubur asyura memang telah menjadi tradisi yang melekat bagi umat Muslim di beberapa daerah Indonesia dan berbagau belahan dunia lainnya.

Mengutip dari berbagai sumber, bubur asyura merupakan makanan yang dibuat dari campuran biji-bijian, berbagai rempah, sayur, ikan, dan daging. Pembuatan bubur ini biasanya dilakukan secara gotong royong bersama tetangga-tetangga sekitar.

Baca Juga: Hindari! 5 Kebiasaan Ini Bikin Kamu Cepet Tua Lho!

Tradisi membuat bubur asyura pada tanggal 10 Muharram telah ada sejak zaman Nabi. Berikut sejarah dan filosofi bubur asyura.

Sejarah Bubur Asyura

Bubur asyura berawal dari selamatnya Nabi Nuh AS dari banjir bandang yang melanda pada bulan Muharram. Saat itu Allah SWT menolong Nabi Nuh dan selamat beserta kaumnya.

Selama berminggu-minggu terombang-ambing di tengah banjir, kapal Nabi Nuh akhirnya berlabuh di sebuah bukit bernama bukit Judi pada tanggal 10 Muharram.

Nabi Nuh kemudian memerintahkan kaumnya agar mengumpulkan sisa buah makanan yang masih ada, yaitu gandum, adas (sejenis kacang-kacangan atau kedelai hitam), kacang tanah, dan kacang putih.

Semua bahan tersebut dikumpulkan dalam tujuh takaran besar lalu dimasak dan dimakan bersama-sama.

Baca Juga: Crispy banget! Cobain Resep Simple Udang Keju

Itulah peristiwa makan bersama yang pertama kali terjadi setelah bencana banjir dan topan melanda. Sejak saat itu, umat Muslim terbiasa makan bersama dengan bahan-bahan campuran yang mendekati makanan Nabi Nuh tersebut.
 
Ibnu Hajar menganjurkan makanan yang disajikan terdiri dari tujuh macam kurma, gandum, beras, daging hewan yang berjalan kaki, kedelai hitam dan putih, serta kacang merah. Hidangan inilah yang saat ini dikenal sebagai bubur Asyura.
 

Filosofi Bubur Asyura

Bubur asyura ternyata memiliki kandungan filosofis yang mendalam. Mengutip dari berbagai sumber bubur asyura melambangkan rasa syukur manusia atas nikmat dan keselamatan yang diberikan Allah SWT selama ini.

Ibnu Hajar menganjurkan makanan yang disajikan terdiri dari tujuh macam kurma, gandum, beras, daging hewan yang berjalan kaki, kedelai hitam dan putih, serta kacang merah. Hidangan inilah yang saat ini dikenal sebagai bubur Asyura.
 
Tradisi memasak bubur Asyura biasanya dilakukan di tempat terbuka dan dalam porsi yang besar. Tujuannya agar bubur ini bisa dibagikan ke masjid-masjid dan warga sekitar. Sebagian juga disisakan sebagai menu buka puasa bagi mereka yang menjalankannya.
 
Ketika memasak, ibu-ibu biasanya akan saling tukar cerita tentang keluarga, isu-isu di desa setempat, dan topik-topik lainnya. Suasana kebersamaan inilah yang menjadi ciri khas tradisi memasak bubur Asyura.
 
 
 
 
 

Tags

Terkini