INSIBERNEWS – Keramat Sumur Tujuh yang terletak di Kelurahan Uwung Jaya, Kota Tangerang bukan keramat sembarangan. Banyak peziarah dari berbagai pelosok datang mengunjungi makam tersebut, untuk mengambil karomahnya.
Makam keramat sumur tujuh letaknya sangat berdekatan dengan perumahan Perum Perumnas Karawaci 4, Kel Uwung Jaya. Kini, sejak tahun 1991 Pemerintah mulai membangun Perum Perumnas 4 Karawaci Tangerang. Dilahan sawah kering sekitar lebih kurang seluas 50 Ha habis dibebaskan.
Sejak saat itu kampung Uwung Girang tersebut, sudah tertata dengan bangunan-bangunan perumahan layaknya sebuah kota. Dan semakin lama ciri sebuah kampung yang damai dan asri itu semakin hilang.
Tepatnya dikampung Uwung Girang, terdapat sumur tujuh yang terhimpit bangunan perumahan Perumnas 4 dan perkampungan. Saat ini sumur tersebut kerap disebut keramat oleh masyarakat sekitar, karena mempunyai sejarah dan sinar karomahnya.
Jauh sebelum dibangunnya perumahan, suasana sumur tujuh terbengkelai dan terkesan dibiarkan begitu saja, yang selama itu keberadaanya belum banyak diketahui oleh masyarakat Tangerang pada umumnya.
Tetapi para peziarah yang datang dari berbagai pelosok sudah mengetahui, selalu datang berkunjung dan langsung mengadakan ritual sesuai dengan kebiasaanya, mandi di sumur pada tengah malam.
Baca Juga: Ditilang! Ngerokok Sambil Mengemudikan Kendaraan, Denda Uang Dan Pidana Kurungan
Sumur Tujuh Uwung Girang mempunyai nilai Gaib
Menurut juru kunci keramat, dengan panggilan Budi, pada Tahun 1991 pihak perum Perumnas merasa bahwa sumur tujuh adalah bagian dari wilayahnya, maka tempat itu akan dibangun rumah dan akan diratakan, sehingga wilayah komplek perumahan itu sudah terpenuhi sampai kepada garis batas.
Namun keanehan sungguh terjadi, ketika pekerja melakukan penutupan atau pengurukan sumur tersebut. Tiba-tiba saja tanah yang akan dikeruk menjadi keras. Alat berat (beko) yang dipakai pekerja berhenti bekerja seketika.
Kemudian teknisi melakukan pemeriksaan dan melakukan perbaikan. Tetap saja alat berat itu tidak bisa dijalankan. Selang beberapa hari pekerja atau supir alat tersebut merasa sakit dan akhirnya diketahui meninggal dunia.
Hari-hari berikutnya, didatangkan lagi alat berat yang baru dengan tenaga kerja yang baru. Ternyata tetap saja alat berat yang baru itu tidak bisa dijalankan. Pekerjanya pun selalu mengeluh dan merasa sakit, akhirnya meninggal dunia.
Berkaca pada kejadian diatas, pihak manajemen proyek Perum Perumnas menghentikan melakukan penutupan sumur tujuh dan melakukan koordinasi kepada para tokoh masyarakat setempat.
Barulah kemudian tersebar berita keseluruh masyarakat sekitar, bahwa sumur tersebut mempunyai nilai gaib. Akhirnya untuk menghindari kejadian kecelakaan berikutnya, Manajemen Perum Perumnas memagar sumur tersebut dengan tembok yang tinggi secara permanen.